SINEREVIEW

May 30 2017 by arwuda

Ini Bedanya Film Jailangkung 2017 dan 2001

Rizal Mantovani bersama sutradara Jose Purnomo kembali menghadirkan film horor 'Jailangkung'. Keduanya sukses membuat film berjudul sama 'Jelangkung' di tahun 2001.

Lalu, apa yang membedakan cerita 'Jailangkung' versi 2017?

Salah satu pemainnya Hannah Al Rashid yang berperan sebagai Angel, 'Jailangkung' saat ini punya kisah drama yang tak dimiliki cerita sebelumnya.

"Mungkin kalau Jelangkung yang tahun 2001 lebih pada pertemanan. Satu geng yang mencari, yang memang suka ghost hunting segala macem, trus mainin bonekanya. In the end banyak hal yg terjadi. Kalau Jailangkung sekarang fokusnya lebih ke keluarga. Jadi konfliknya lebih sama keluarga, nah itu yang membuat film Jailangkung ini berbeda sama yang pertama," ujar Hannah Al Rashid.

Teror supranatural dalam film Jailangkung kali ini menimpa sebuah keluarga yang berduka atas komanya sang ayah di rumah sakit. Hannah sebagai seorang anak berusaha menyadarkan sang ayah karena koma tanpa diketahui apa sebabnya.

"Bapak kami ditemukan dalam suatu tempat yang misterius dalam keadaan koma. Dan kita nggak tahu apa yang terjadi pada dia. Tapi ada beberapa clue yang menunjukan where is this place terus akhirnya kita bertiga memutuskan untuk berangkat ke sana untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Papa," urai Hannah lagi.

Selain itu, mantra yang digunakan untuk memanggil sang arwah pun berbeda dengan sebelumnya. Seperti pada posternya, mantra tersebut berbunyi 'Datang Gendong, Pulang Bopong'.

Beda dengan mantra pemanggil arwah di film sebelumnya yang berbunyi 'Datang Tak Dijemput, Pulang Tak Di Antar'.

Film ini juga dibintangi dua aktris muda Amanda Rawles dan Jefri Nichols. Bersiaplah menghadapi teror, 'Jailangkung' 25 Juni mendatang.

TRIVIA

Darah dan Doa (The Long March [of Siliwangi] atau Blood and Prayer) adalah film Indonesia pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia sebagai sebuah negara (setelah berakhirnya Perang Kemerdekaan Indonesia). Merupakan produksi pertama dari Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), Film ini disutradarai oleh Usamr Ismail dan dibintangi oleh Faridah. Skenario ditulis oleh penyair Sitor Situmorang, yang menceritakan kisah cinta seorang pejuang dengan seorang Belanda yang menjadi tawanannya.