SINEREVIEW

Aug 02 2017 by arwuda

War for the Planet of the Apes

War for the Planet of the Apes

Dendam yang Menjadikan Kera Seperti Manusia

WAR for the Planet of the Apes menjadi cerita yang paling menarik, dibanding dua cerita sebelumnya. Plot cerita begitu masuk akal dan enak dinikmati. Meskipun di bagian awal, termasuk dragging cenderung lambat.

Tapi kalau diperhatikan, justru cerita mengalir lambat merupakan tempo atau pace yang dinginkan sutradara. Tanpa tempo yang melambat, bisa jadi War hanya film pertikaian dan dendam antara manusia dan kera-kera yang makin cerdas. War akan menjadi film aksi belaka, tanpa memungkinkan pembuat menyisipkan spirit maupun pesan dari sifat angkara dan proses penciptaan. Bahkan ketika kera-kera menjadi cerdas sementara manusia berubah sebaliknya. Kecerdasannya digerogoti virus, dan ragu akan eksistensi sebagai makhluk sempurna.

War juga tidak menjadi film yang hanya mengeksploitasi sisi pertikaian atau perang seperti judul filmnya. Pembuat War justru memunculkan sisi perenungan akan arti dominasi ras dengan memenangkan pertempuran. Juga ketakutan ras manusia yang terancam kehilangan dominasi atas ras kera. Pembuat War juga menyisakan ruang bagi penonton untuk merasakan kehilangan kecerdasan dan daya nalar. Semua dituturkan lebih runut. Ini yang menjadikan War of the Planet of the Apes lebih memikat dan menghibur dibanding dua sekuel sebelumnya.

Kalau pun ada yang kurang, War menjadi filmnya lelaki. Tidak ada karakter perempuan yang muncul, apalagi menonjol. Karakter perempuan cukup terwakili oleh tokoh Nova, gadis cilik yang tidak mampu bicara. Ketidakmampuan bicara merupakan tanda-tanda virus telah menyerang, otak mengalami degradasi. Nova pula yang mengawali penyelamatan terhadap Caesar dan kawan-kawan.

War juga menarik dalam penggunaan CGI (computer generating Imagery) dalam menciptakan lanskap, atmosfer film sampai membentuk karakter Caesar (Andre Serkis). CGI juga menjadikan pekerjaan menciptakan kera yang banyak begitu mudah. Penampilan Caesar termasuk yang mencuri perhatian lewat gesture plus akting pemain seperti Andre Serkis.

War of the Planet of the Apes berkisah tentang penyerbuan yang dilakukan Kolonel. Kolonel ingin ras kera musnah. Selain sebagai penyebar virus yang menggerogoti otak manusia, ras kera dikhawatirkan akan berkuasa atas ras manusia. Kolonel berusaha mencegah semua ini terjadi. Itu sebabnya, Kolonel juga kejam terhadap sesame manusia yang sudah terjangkiti virus. Ia akan membunuhnya.

Kegagalan memusnahkan ras kera mendorong Kolonel menyerbu persembunyian ras kera. Kolonel bahkan berhasil membunuh keluarga Caesar, anak dan istrinya. Caesar pun memburu Kolonel. Padahal, Caesar sudah meyakini bahwa dirinya tidak seperti Koba, gorilla yang dikalahkannya. Ia bukanlah Kora yang menanamkan dendam dalam pikirannya.

Caesar pada akhirnya mengakui, ia tidak mampu menyingkirkan dendam dalam pikirannya. Bahwa dendam yang mendorongnya mencari Kolonel. Dendam pula yang mengubah Caesar menjadi seperti manusia, dendam pula yang mencirikan naluri manusia.

(Sinemata/*)

 

Sutradara : Matt Reeves

Pemain : Andy Serkis  (Caesar), Woody Harrelson (The Colonel), Steve Zahn (Bad Ape), Karin Konoval (Maurice), Amiah Miller (Nova), Terry Notary (Rocket), Ty Olsson (Red Donkey), Michael Adamthwaite (Luca), Toby Kebbell (Koba)

 

TRIVIA

Academy Awards merupakan penghargaan perfilman paling bergengsi. Tayangan malam puncak Piala Oscar dinikmati jutaan penonton TV seluruh dunia. Tapi apakah ada hadiah uang diberikan kepada pemenang/nominee? Besarnya tergantung sponsor yang mau mengisi goodie bag. Tahun lalu nilainya sekitar Rp 50 juta, berupa voucer hotel sampai produk elektronik. Piala Oscar sendiri nilai produksinya hanya sekitar Rp 5 juta.