SINEREVIEW

Aug 25 2017 by arwuda

The Battleship Island : Jazz, Tambang dan Derita Perang

BEGITU cepat The Battleship Island meraih box office. Di pemutaran hari pertama di Korea saja sudah meraih 4 juta USD. Tercatat sudah 45 juta USD pendapatan Battleship diraih dalam dua minggu peredaran internasional-nya. Sementara modal produksi di bujet 21 juta USD, teritung film paling mahal untuk produksi Korea.

Tapi apakah puja-puji The Battleship yang diberikan media (Korea) dan penonton sesuai dengan daya pikat filmnya? Sebagai film epik perang yang menghadirkan penderitaan pekerja tambang batu bara di Pulau Hashima – lepas pantai kota Nagasaki. Battleship mampu menyeret penontonnya merasakan derita perang. Kerja paksa, perampasan hak, pengkhianatan, kesia-siaan, kebiadaban yang meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan.

Battleship juga mampu menggiring penonton sampai pada kebencian akan perang. Paling tidak, sisi buruk peperangan menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan. Tidak ada pemenang dalam satu peperangan, juga harus diyakini faktanya. Nyatanya, Jepang hanya menguasai Asia Timur juga Asia Tenggara dalam beberapa tahun, setelah itu derita panjang harus dirasakan rakyat Jepang. Tidak terkecuali Jerman, Italia dan negeri fasis lainnya.

Battleship secara spesifik juga ingin menyampaikan pesan kuat bahwa dalam situasi chaos memunculkan bermacam wajah manusia. Di Battleship terwakili beberapa karakter kuat sebagai tokoh utama film. Di antaranya Lee Kang ok dan Sohee, ini tokoh anak-bapak pemusik dan penyanyi jazz yang terjebak di tambang Pulau Hashima. Lainnya, Choi Chil-sung, kepala gangster di Seoul yang ditahan dan dipaksa bekerja di pertambangan. Choi melihat peluang mengangkat dirinya sebagai kepala warga Korea di Hashima. Ia berharap mendapatkan privilese dari komandan pasukan Jepang.

Tokoh berikutnya adalah Mal-nyeon. Ia jugun-ianfu pasukan Jepang yang akhirnya jatuh hati pada Choi Chil-sung. Tokoh lainnya adalah Park Mo-yung, ia pejuang yang menyusup ke Hashima demi menyelamatkan salah satu pimpinan pejuang. Lima orang inilah yang menjadikan Battleship Island memiliki alur beragam, dan kesemuanya disatukan di kamp pekerja tambang Pulau Hashima.

Battleship Island menjadi drama epik menarik, meskipun sedikit riuh dengan plot cerita beragam, juga pertikaian yang muncul. Ini yang menjadikan Battleship tampil sangat emosional.

Battleship Island juga menyisakan cerita tentang pekerja Korea di Jepang. Tak mudah memahami bahwa mereka pekerja tambang atau bukan tawanan perang. Faktanya, selain pekerja dari Korea, Hashima juga mempekerjakan tawanan perang dari China, juga negara jajahan Jepang lainnya. Bedanya, pekerja Korea sepertinya mendapatkan privilese, mereka menerima gaji. 

Battleship Island menjadi julukan bagi Pulau Hashima sebagai tambang batu bara di lepas pantai Nagasaki. Batu bara dibutuhkan Jepang untuk menggerakkan industri perang mereka. Untuk memperbesar produksi, dikirimlah pekerja-pekerja dari tanah jajahan, tidak terkecuali dari Korea.

Kang ok bersama putrinya, Sohee, dan para pemain band menyingkir ke Hashima setelah Kang ok menghadapi sejumlah tuduhan menggoda komandan tentara Jepang di Seoul. Kang ok menganggap Hashima masihlah pulau tempat ia dan band-nya bisa tampil. Kang ok kaget setelah tahu kondisi Hashima yang sangat buruk. Termasuk perlakuan Jepang terhadap pekerja tambang dan para perempuan yang dipaksa sebagai pelampiasan seks tentara dan warga Jepang yang menguasai Hashima.

Tekanan kondisi tambang yang tidak manusiawi, intrik kekuasaan di pulau antara manajer tambang, tentara Jepang, kepala gangster Korea, perempuan-perempuan penghibur, mendorong pertikaian dan keinginan meninggalkan pulau. Apalagi mereka mendengar, Okinawa jatuh ke tangan Amerika. Hiroshima luluh lantak dibom.

Menjadi pilihan sulit, ketika bersatu untuk meninggalkan pulau atau berpihak pada penguasa pulau. Korban pun berjatuhan. Sebanyak 400 warga Korea berjuang meninggalkan pulau, sebagian besar berhasil. Sebagian lagi tewas mengenaskan. Di saat mereka meninggalkan Hashima, persis Amerika melepas Fatman meluluhlantakkan Nagasaki yang hanya berjarak 15 kilometer dari Hashima. Cendawan awan panas bom, disaksikan mereka yang selamat dari atas kapal yang membawa kembali ke Korea.  

(Sinemata/*)

Sutradara: Seung-wan Ryoo

Pemain: Jeong-min Hwang (Lee Kang-ok), Ji-seob So (Choi Chil-Sung), Joong-ki Song (Park Moo-Young), Jung-hyun Lee (Mal-Nyeon), Su-an Kim (So-Hee)

TRIVIA

Lewat Djam Malam adalah film pertama yang berhasil memenangkan penghargaan Festival Film Indonesia pada 1955. Tidak hanya pada kategori FIlm Terbaik, tetapi juga penyutradaraan, skenario, pemeran utama pria dan wanita dan peran pembantu. Lewat film ini pula, sang sutradara, Usmar Ismail sempat dinominasikan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Film Asia