SINEREVIEW

Sep 04 2017 by arwuda

Baby Driver : Menyatukan Lagu dan Aksi Perampokan

Efisien, asap roda dan lagu latar. Begitu mudah menebak jalan cerita Baby Driver. Kurang lebihnya jilid-jilid film Transporter tapi minim aksi baku pukul. Dan kisah anak muda jagoan, sudah tentu memiliki segmen penonton lebih luas. Hasilnya, Baby Driver belum seminggu sudah meraup 200 juta dolar.

Salah satu sisi menarik dari Baby Driver adalah begitu efisien mengemas cerita. Termasuk dialog tiap scene, begitu mudah dicerna sebagai cerita yang tak perlu hadir secara visual. Durasi 113 menit terasa  begitu singkat dan sangat kuat mengikat emosi penontonnya. Pun bikin betah menikmati setiap aksi Baby menyeleseikan masalah.

Latar kisah Baby bersedia menjadi sopir di aksi perampokan misalnya, cukup dituturkan sang bos saat mengatur rencana perampokan. Sosok Baby yang digambarkan asosial, rusak pendengarannya dan piawai nyetir mobil, juga simpel dituturkan lewat kilas balik kecelakaan mobil bersama sang ibu yang lagi ribut dengan sang bapak. Menggambarkan sosok ibu Baby yang penyanyi dan membuatnya selalu teringat, cukup dihadirkan lewat rekaman suara ibu bersama gitar akustik yang sangat menyentuh.

Dan iPod menjadi pilihan Baby mengatur ritme hidup dan tempo perampokan, pun berkelindan dan bertaut dengan cerita masa lalu indah bersama sang ibu. Ikatan emosi ibu-anak ini sudah tentu bikin penonton Baby Driver punya alasan untuk terbawa perasaan. Coba dengar saja saat Sky Ferreira – pemeran ibu Baby – menyanyikan Easy, lagu jadul grup Commodore dengan Lionel Ritchie sebagai frontman-nya. Duh, bikin makin meleleh aja!

Adegan kebut jalanan saat aksi perampokan di Baby Driver pun mampu memacu adrenalin penonton. Edgar Wright – sutradara dan penulis skenario – lebih natural dan dramatis menghadirkan adegan deritan roda berasap. Hasilnya, aksi kejar-kejaran Baby Driver terbilang menawan. Mobil apa saja yang dikendarai Baby dalam aksi perampokan selalu disertai putaran roda berasap ini. Repetitif tapi menarik.

Baby Driver juga terbilang unik dalam menggunakan sound track sebagai ilustrasi. Lagu dan musik tidak hanya berfungsi mendukung visual. Sound track juga tidak sekadar hadir, ia juga bercerita. Malah menjadi pendukung cerita film. Soundtrack berjudul Baby Driver yang sempat dilantunkan liriknya oleh Baby dan sang kekasih, Debora, menjadi salah satu ide cerita film ini. Baby Driver sendiri dulu populer dilantunkan duet ikonik Simon-Garfunkel.

Setidaknya 30 lagu latar di Baby Driver benar-benar menyatu dengan cerita. Setiap hentakan beat lagu ngeblend banget dengan tempo film. Begitu juga saat Harlem Suffle-nya Rolling Stone  mengawali cerita Baby Driver.

Ada rasa penasaran dengan film-film box office yang beredar saat ini. Sebagian besar mereka menempelkan lagu-lagu jadul sebagai soundtrack. Tak terkecuali Baby Driver ini. Efek nostalgia – bak golden memories – diyakini menjadi formula ampuh memikat penonton betah di tempat duduk. Bisa jadi sound track lagu-lagu jadul mampu membangkitkan kenangan penonton. Bila perlu, nembang bareng bersama sang bintang. Yeah, yeah, yeah.... Do the Harlem Suffle!

So, bergulirlah cerita Baby Driver memperlihatkan keriangan Baby sebelum melakukan aksi  perampokan. Perampokan demi perampokan dilakukan Baby untuk menebus perbuatannya merampok mobil Doc saat usianya belasan. Doc akhirnya memanfaatkan kepintaran Baby mengemudikan mobil untuk membawa kabur geng suruhannya setiap usai aksi perampokan,

Baby hanya mendapatkan uang sekadarnya dari hasil rampokan sebagai kompensasi penebusan utang pada Doc. Satu-dua rampokan lagi, Baby akan terbebas dari kewajiban, begitu janji Doc. Nyatanya, Doc meminta Baby bertugas lagi melakukan perampokan yang berakhir kacau balau.

Baby Driver seolah ingn menyampaikan pesan bahwa kejahatan harus diganjar selayaknya. Pembuat film ini tak ingin Baby melenggang begitu saja di muka hukum. Tapi khas Hollywood, rasanya memberi kebahagiaan penonton jauh lebih penting. Baby Driver mengikuti pakem ending film-film Hollywood: happily ever after!

(Sinemata/ *)

Sutradara: Edgar Wright

Pemain: Ansel Elgort (Baby Miles), Kevin Spacey (Doc), Lily James (Debora), Jon Hamm (Buddy / Jason Van Horn), Eiza González  (Darling / Monica Castello), Jamie Foxx (Bats / Leon), Jon Bernthal (Griff), Flea (Eddie "No-Nose"), CJ Jones (Joseph), Sky Ferreira (Ibu Baby), Lance Palmer (Ayah Baby)

TRIVIA

Film Indonesia dengan sekuel terbanyak, juga franchise dan spin-off (sempalan cerita) adalah Catatan Si Boy. Film yang diangkat dari sandiwara radio, diproduksi pertama kali 1987. Skenario film ditulis Marwan Alkatiri dan disutradarai Nasri Cheppy. Sekuel kedua hingga kelima, diproduksi tiap tahun hingga Catatan Si Boy 5 (1991). Tahun 1991, muncul spin-off yang ditulis Marwan Alkatiri dan disutradarai Nasri Cheppy, Catatan Si Emon. Yang paling mutakhir adalah Catatan Harian Si Boy (2011) yang dianggap sebagai lanjutan kisah si Boy yang sudah berumur.