SINEREVIEW

Oct 06 2017 by arwuda

The Foreigner: Menjadi Asing dan Putus Asa Tanpa Keturunan Tersisa

JAUH lebih menghibur menyaksikan The Foreigner dibanding film Jacky Chan sebelumnya, Kungfu Yoga. Tanpa perlu lawakan yang kadang bikin blunder, Chan tampil mengesankan. Dan adegan laga dengan koreografi tertata rapi, menjadikan Foreigner enak ditonton.

The Foreigner makin memikat dengan cerita dan konflik yang bertaut dengan banyak tokoh di film. Pun isu terorisme yang bikin makin seksi film besutan sutradara Martin Campbell. Campbell terbilang banyak menghasilkan film-film box office, sebut saja Vertical Limit, Zorro, Golden Eye, Casino Royale, Green Lantern, Edge of Darkness. Dan memang film-film tersebut adegan laganya terbilang menawan.

Isu terorisme sudah tentu menjadikan The Foreigner menjadi isu seksi untuk saat ini. Pembuat Foreigner seakan ingin membuktikan bahwa cerita terorisme tidak melulu cerita pasukan atau gerombolan lelaki berjenggot yang beraksi di kawasan Arab. Cerita yang diangkat berdasarkan novel berjudul The Chinaman, malah berlatar Inggris dan Irlandia. Dua wilayah yang tak pernah akur dan lama berkonflik. Dua negara yang sesungguhnya saat ini dalam kondisi tentram damai.

Tapi intinya juga bukan urusan tentram-damai. Tapi Foreigner ingin membuka mata banyak pihak bahwa dendam pembunuhan dalam konflik dua negara, sering susah padam. Keduanya mudah tersulut dan mudah diadudomba. Belum lagi kalau sudah dipolitisasi untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Ini yang menjadikan The Foreigner aktual menjual isu terorisme. Dan di minggu awal sudah mampu menutup bujet produksi sebesar 35 juta USD.

Selain Jacky Chan, penampilan Pierce Brosnan mampu menghidupkan cerita Foreigner. Brosnan pula yang menjadikan konflik film makin menarik. Lihat saja bagaimana tampilan Brosnan di tiap scene Foreigner, begitu berkelas.

Foreigner bertutur tentang lelaki renta Quan Minh (nama Vietnam), yang tengah bahagia hendak menikahkan putrinya. Pemboman di butik penjualan baju pengantin, menghancurkan kebahagiaan Quan. Padahal, dari tiga anak dan satu istri, Fan merupakan keluarga tersisa dari masa lalu Quan. Dua anaknya diculik di perairan menuju Singapura. Sementara istrinya meninggal waktu melahirkan Fan.

Runtuh sudah semangat hidup Quan!

Satu-satunya keinginan Quan adalah menemukan pembunuh sang anak. Quan tak peduli siapa pelakunya, tersebut sebagai teroris atau bukan, bahkan penguasa sekalipun. Quan bertekad menemukan pembunuh putrinya. Toh ia sudah jadi lelaki asing (foreigner) dan hopeless di negeri yang sudah ia tinggali selama 20 tahun.

(Sinemata/*)

Sutradara: Martin Campbell

Pemain:

Jackie Chan (Quan Ngoc Minh), Pierce Brosnan (Liam Hennessy), Charlie Murphy (Maggie), Michael McElhatton, Liu Tao (Keyi Lan), Orla Brady (Mary Hennessy), Katie Leung (Fan)

TRIVIA

Darah dan Doa (The Long March [of Siliwangi] atau Blood and Prayer) adalah film Indonesia pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia sebagai sebuah negara (setelah berakhirnya Perang Kemerdekaan Indonesia). Merupakan produksi pertama dari Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), Film ini disutradarai oleh Usamr Ismail dan dibintangi oleh Faridah. Skenario ditulis oleh penyair Sitor Situmorang, yang menceritakan kisah cinta seorang pejuang dengan seorang Belanda yang menjadi tawanannya.