SINEREVIEW

Oct 12 2017 by arwuda

Pengabdi Setan: Horor Kemasan Jadul buat Penonton Milenial

WAJAR di hari ke-13 film Pengabdi Setan mampu melewati angka dua juta penonton. Begitu banyak pujian dialamatkan buat film ini sebagai film horor paling mencekam.  Juga adegan jumpscare yang terencana matang dan intens hadir. Wajar pula bila teriakan kencang berjamaah di kadang terdengar lebay.

Pengabdi Setan juga punya catatan menarik dalam menghadirkan atmosfir latar cerita tahun 1980-an. Properti, busana, suasana hingga warna film cukup mewakili suasana mencekam kisah film yang pernah diproduksi dengan judul sama di tahun 1980. Namun sutradara Joko Anwar sepertinya tak ingin membuat ulang (remake) cerita versi lama yang juga diproduksi Rapi Films. Joko Anwar memilih membuat cerita yang dekat dengan penonton milenial.

Misalnya saja, dialog soal royalti lagu. Adegan Rini sebagai anak tertua – ibunya penyanyi -- menagih royalti lagu-lagu sang ibu ke produser rekaman. Dan dijawab produser bahwa lagu tak laku, jadi tidak ada royalti yang bisa dibayarkan. Film era 1980-an tidak akan pernah memunculkan wacana tentang royalti karya cipta. Ini isu kekinian yang hadir di film berlatar 1980-an.

Begitu juga soal tewasnya sang ustad penolong keluarga Rini di tangan para iblis. Di film era 1970-an hingga 1990-an, ustad adalah simbol kekuatan. Bahkan di film-film masa itu, menjadikan ustad sebagai kekuatan yang mewakili Tuhan dalam mengalahkan iblis. Manakala ayat-ayat sudah dibacakan, sajadah atau selempang ustad sudah dikibaskan, iblis maupun Jin Ifrid pun sudah pasti ngibrit. Ustad – dalam film Indonesia masa lalu – tampil begitu superior dalam menghadapi teror setan.  

Pengabdi Setan mengabaikan pakem superioritas ustad dalam melawan iblis. Film Hollywood sudah sejak lama sudah menyingkirkan superioritas para pemuka atau ahli agama.  

Dan di film-film milenial saat ini, salah satu yang disuka penonton adalah penggunaan lagu-lagu jadul. Sebagian besar lagu popular pada masanya. ‘Retro’ menjadi salah satu nilai jual yang mampu membuai penonton milenial. Sementara bagi penonton berumur, mendengar lagu jadul di film memunculkan ‘kesenangan’ tersendiri. Di film Conjuring 2, ada lebih dari 8 judul lagu jadul -- mulai dari lagu The Hollies sampai Bee Gees – menjadi soundtrack film. Atau di film Baby Driver, tak kurang 20 lagu golden memories menghiasi film.

Joko Anwar pun menawarkan konsep yang sama dalam penggunaan lagu-lagu jadul. Meskipun Pengabdi Setan memang berlatar cerita tahun 1980-an. Dan nyatanya berhasil. Tidak terkecuali penggunaan unsur ilustrasi musik yang mirip-mirip Insidious, Conjuring, Cloverfield, begitu efektif menyeret imajinasi rasa takut penonton. 

Dua juta penonton dan masih terus bertambah, memperlihatkan betapa besar penyuka film horor. Menjadi kebanggan tersendiri buat penonton yang ‘merasa imun’ saat berhasil mengalahkan rasa takut. Di sisi lain,  memamerkan kengerian secara berjamaah dalam bioskop juga menjadi ‘kebahagiaan’ bentuk lain. Dua sisi ini yang menjadikan film horor mendatangkan untung besar. Tak terkecuali Pengabdi Setan yang dinominasikan di 13 kategori Festival Film Indonesia 2017. 

Pengabdi Setan bertutur tentang keluarga yang diteror iblis setelah kematian sang ibu. Ada misteri tersembunyi dari kematiannya. Sementara sang bapak harus meninggalkan keempat anaknya – Rini, Tony, Bondi dan Ian – mencari nafkah buat menebus surat gadai rumah.

Kematian sang ibu menyimpan misteri besar. Pilihan hidup sang ibu di masa lalu, kini berubah menjadi ancaman bagi nyawa keempat anaknya.

Hingga ujung film, Pengabdi Setan pun masih menarik. Apalagi, hadirnya tokoh Darminah (diperankan Asmara Abigail) sebagai tetangga rumah susun. Pertanyaan yang muncul, apakah memang Pengabdi Setan karya sutradara Joko Anwar ini prekuel dari film produksi tahun 1980-nya? Bisa jadi jawabnya iya karena tokoh Darminah ada di versi produksi 37 tahun lalu itu. Darminah menjadi tokoh utamanya.

Namanya juga film laris. Jadi sah-sah saja, mau prekuel-nya dibuat berjilid-jilid, atau malah cerita muasal yang memberi penjelasan film Pengabdi Setan versi jadul. Sekuel berikutnya tentu saja menjadi bagian dari aksi si Darminah. Ya sudah ditunggu saja kesepakatan sutradara dan rumah produksi, mau bikin lanjutan atau cerita muasal Pengabdi Setan.  

(Sinemata/ *)

Sutradara & Penulis Naskah: Joko Anwar

Pemain: Tara Basro (Rini), Dimas Aditya (Hendra), Bront Palarae (Bapak), Endy Arfian (Tony), Ayu Laksmi (Ibu), Elly D. Luthan (Nenek), Nasar Annuz (Bondi), M Adhiyat (Ian), Arswendi Nasution (Ustadz)

 

TRIVIA

Lewat Djam Malam adalah film pertama yang berhasil memenangkan penghargaan Festival Film Indonesia pada 1955. Tidak hanya pada kategori FIlm Terbaik, tetapi juga penyutradaraan, skenario, pemeran utama pria dan wanita dan peran pembantu. Lewat film ini pula, sang sutradara, Usmar Ismail sempat dinominasikan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Film Asia