SINEREVIEW

Nov 27 2017 by arwuda

Marlina – Si Pembunuh dalam Empat Babak: Hepi Bersama Merayakan ‘Kemenangan’ Marlina

TIDAK mudah berbicara soal feminisme dalam satu rangkaian metafora tanpa memperlihatkan pemberontakan, keperkasaan bahkan kemenangan perempuan atas lelaki . Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, mampu menerjemahkan feminisme dalam proporsi tak berlebihan. Natural, tapi mampu menjelaskan keberanian melawan dominasi lelaki. Dan dalam struktur cerita yang memikat.

Pembuat film Marlina sepertinya sadar bahwa tanpa memperhatikan sisi menghibur, mustahil menghasilkan film yang enak dinikmati. Kadang memanjakan isu cerita yang seksi, seperti feminisme, ketertindasan maupun kemiskinan, sering menjadikan film tidak memikat lagi. Bahkan eksploitasi masalah isu kerap menjadi problem yang lebih dekat kepada pembuat film dibanding realita di masyarakat. Marlina tidak demikian.

Marlina memilih gaya tuturan sederhana. Bahkan dalam tuturan linear, menjadikan cerita Marlina tidak berbelit dalam menyelesaikan problem yang muncul. Rangkaian dramatik justru hadir di saat tokoh utama menuntaskan masalahnya. Dramaturgi Marlina seakan menutup kekurangan lambatnya tempo film secara keseluruhan. Ada rasa penasaran yang lumayan menarik emosi penonton di saat menyaksikan setiap laku Marlina menghadapi kaum lelaki yang hendak memperkosanya.

Adegan setelah pembunuhan kepala begal, perjalanan Marlina ke kantor polisi hingga ia diburu dua perampok tersisa, menjadi babakan yang menanti untuk dilihat akhir ceritanya.

Marlina berduka setelah kematian anaknya. Sebelumnya, suaminya juga telah meninggal. Ujud mumi-nya masih tersimpan di ruang tamu. Sebagai perempuan yang tinggal di dusun terpencil, ia kedatangan perampok yang ingin merampas ternak dan harga dirinya. Hari itu adalah hari keberuntungan Marlina yang diminati oleh tujuh orang perampoknya. Marlina dengan nada datar malah menyebut hari ini adalah hari nahasnya kedatangan para perampok. Marlina meracuni perampok dan membunuh mereka. Satu orang lolos.

Perjalanan Marlina yang ingin membuat pengakuan di kantor polisi, justru menjadi problem tersendiri dan menyita tiga babak cerita.

Ternyata pencapaian artistik Marlina lumayan pararel dengan nilai komersial dari filmnya. Marlina disambut antusias di bioskop, meskipun tak semeriah film-film horor box-office. Setidaknya, drama sosial dengan isu feminisme seperti Marlina, masih bisa diterima penonton. Dan mereka terhibur. Apalagi menyaksikan adegan pemenggalan kepala sang perampok saat hendak masyuk di ranjang Marlina. Bisa jadi, mereka (penonton) terhibur ikut merayakan ‘kemenangan’ Marlina. Bisa jadi!

(Sinemata/ *)

Sutradara: Mouly Surya

Pemain: Marsha Tomothy (Marlina), Egy Fedly, Dea Panendra, Yoga Pratama, Haydar Saliz

TRIVIA

Film Indonesia berdurasi terpanjang, dicatat oleh film Pengkhianatan G30S PKI (1984) yang merupakan produksi Pusat Produksi Film Negara (PPFN). Wikipedia mencatat, G30S berdurasi 271 menit (4 jam 31 menit). Berikutnya, film Janur Kuning (1979) berdurasi 180 menit (3 jam), Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015) berdurasi 161 menit (2 jam 41 menit), Tjoet Nja Dhien (1986) durasi 150 menit (2 jam 30 menit), The Reid 2: Berandal, berdurasi 148 menit (2 jam 28 menit)