SINEREVIEW

Nov 27 2017 by arwuda

Valentine: Jagoan yang Ingin Main Film

Valentine, super-hero lokal yang menguasai beladiri silat. (dok: Skylar)

DARI banyak film laga Indonesia, Velentine termasuk menghibur. Koreografi laga tertata menarik. Bahkan punya story-telling yang tertata rapi. Kalaupun ada yang kurang tentunya soal dramatik film kurang greget. Menjadikan Valentine tak meninggalkan impresi kuat buat penonton.

Valentine menjadi jagoan atau super-hero juga tampil manusiawi. Ia bukan jagoan yang mengalami mutan. Memiliki kelebihan layaknya super-hero. Atau kelebihan super gara-gara perubahan genetis. Valentine tampil manusiawi. Layaknya jagoan dengan kemampuan beladiri silat. Ia juga merasa kesakitan kalau digebuki. Bahkan nyaris tewas tercekik saat kostumnya ditarik lawannya. Valentine juga tidak berlebihan dalam menggunakan senjata dalam mematikan lawan. Bahkan memilih memborgol atau mengikat mereka agar bisa ditangani polisi. Dibanding harus membunuh mereka.

Valentine menjadi jagoan juga karena urusan sepele dan sangat lumrah. Ia seorang pelayan restoran yang ingin menjadi pemain film dan bisa ikut casting. Ini salah satu lubang cerita yang tidak semua penonton paham. Bahwa Valentine punya bapak polisi yang berdedikasi, secara finansial tidak kaya-kaya amat meskipun anak jenderal. Valentine, seperti galibnya gambaran keluarga jenderal polisi jujur, juga memilih mencari peran film demi mencari ‘keajaiban’ nasib baik. Sayang, tak semua penonton memahami bagian cerita ini.

Perlu juga dikoreksi soal buruknya relasi ibu-anak. Kenapa selalu dikesankan lewat hubungan penuh ketegangan dan amarah yang siap meledak. Bandingkan bagaimana Hollywood mengelola relasi dan emosi Peter Parker dan bibinya. Clark Kent dengan sang ibu, atau Loki dan kedua orangtuanya. Begitu penting mengelola emosi relasi dengan orangtua, kekasih atau bahkan lawan. Bukan digambarkan sekadar kemarahan atau emosi dengan leher berurat.

Para hero Hollywood, justru benar-benar dipikirkan relasi emosi mereka. Bukan tidak mungkin, malah mampu menyeret emosi penonton, mulai yang mengharu biru sampai berlarat-larat. Bila perlu bikin baper (terbawa perasaan) yang gak ada putusnya. Lihat saja bagaimana relasi Tony Stark dan Pepper Potts. Valentine harusnya bisa lebih menarik menjadikan relasi ibu-anak hadir lebih emosional.

Vespa kuning kendaraan menjadi adegan pembuka perjalanan Valentine menjadi jagoan pemberantas kejahatan. Gara-garanya, ia tertarik dengan tawaran Bono yang akan membuat film. Sementara Bono tidak pernah bisa mendapatkan investor produksi film. Ia buat eksperimen membuat tayangan reality show penangkapan penjahat lewat jagoannya, Valentine.

Usaha Bono berhasil, Valentine sukses menjadi jagoan idola warga kota Batavia City – Gotham versi Indonesia. Kehadiran  Valentine tetap tak membuat polisi hepi. Valentine dianggap menyalahi kewenangan polisi. Bahkan ketika polisi tidak mampu menghadapi teror penjahat bernama Shadow, aksi Valentine masih dianggap tindakan di luar hukum. Polisi harus menghentikan aksi Valentine dan Shadow.

Di akhir cerita, pembuat Valentine menyisakan cliff hanger atau cerita menggantung. Dinarasikan bahwa berakhirnya kejahatan Shadow merupakan awal dari aksi Valentine. Nah, apakah Valentine akan lanjutannya seperti galibnya jagoan Marvel atau DC, sepertinya lihat respons penonton Valentine saat ini. Mudah-mudahan film yang menghibur ini diminati penonton Indonesia. Kalau tidak, sepertinya ragu produser mau membuat sekuel lanjutannya. Skylar?

(Sinemata/ *)

Sutradara: Agus Pestol

Pemain: Estelle Linden (Srimaya/Valentine), Matthew Sattle (Bono), Arie Dagienkz (Wawan), Fendy Pradana (Bumantara), Joshua Pandelaki (Bambang), Lily SP (Ibu Srimaya), Mega Carefansa (Sally), Indra Birowo (Polisi), Ahmad Affandy (Umbra)

TRIVIA

DI Thailand, sudah biasa sebelum dimulai pertunjukan konser, siaran radio dan televisi, juga film bioskop menyanyikan lagu kebangsaan Phleng Chat Thai. Hingga sekarang pun masih berlangsung. MVP Pictures mencoba melakukan ritual sama melalui Film Soekarno (2013). Sebelum film dimulai, tertulis teks yang meminta dengan hormat penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Banyak yang merespons positif, tapi tak sedikit yang menolak berdiri dan mau menyanyikan lagu kebangsaan.