SINEREVIEW

Jan 08 2018 by arwuda

Bleeding Steel: Polisi Super Rebutan Jantung Super


Opsir Lin dong dan Xiao Su (Susan) menyelamatkan jantung mekanis super buatan Dr james

SEPERTI film-film Jacky Chan, Bleeding Steel tidak memiliki kedalaman dalam penggarapan. Eksekusi adegan juga tidak konsisten. Beruntung nama besar Jacky Chan masih menjual dan selalu memberi harapan mendatangkan penonton. Contoh mutakhir Kungfu Yoga tentunya. Film buruk tapi bisa meraup seperempat juta dolar.

Nama Jacky Chan jelas menjadi jaminan menarik minat penonton. Adegan laga, scene-scene komikal dan mencoba mengikat emosi penonton dengan cerita relasi anak-bapak, seakan berulang di Bleeding Steel. Namun lagi-lagi, menjadikan Bleeding sebagai film dengan kemasan drama laga fiksi ilmiah, tidak terlalu meyakinkan hasilnya. Kisah jantung mekanis yang mampu menggantikan fungsi jantung, termasuk menghasilkan darah super, membuat Bleeding tak terlalu menarik menjual premis film. Paling penonton hanya menikmati kisah bapak yang ingin menjaga putrinya dari ancaman penculikan karena memiliki jantung mekanis super ini.

Namun ada yang unik dari film-film Jacky Chan, meski story telling-nya buruk, tapi sukses dalam peredaran. Lagi-lagi Kungfu Yoga (2017) contohnya, juga Skiptrace (2016). Film laga komedi dengan cerita yang buruk, tapi laris dan jadi film box-office. Bandingkan dengan The Foreigner (2017), yang menarik dari banyak aspek filmis, tapi rasio keuntungan tak sebesar Kungfu maupun Skiptrace.

Nama Jacky Chan dan film-filmnya di daratan China seakan menjadi jaminan bakal laris. Film buruk seperti Kungfu Yoga saja mampu meraup 255 juta dolar, dan 254 juta dolar dihasilkan dari daratan China. Railroad Tiger menghasilkan 102 juta dolar, sebesar 101 juta dolar juga dihasilkan dari daratan China. Begitu juga Foreigner maupun Skiptrace yang 99 persen penghasilannya didapat dari daratan China.

Begitu mudah film-film Jacky Chan meraup untung di daratan China. Sudah bisa diperkirakan, Bleeding Steel pun akan menuai sukses yang sama. Apalagi publik China daratan memang menyukai film-film laga, fiksi ilmiah plus drama menyentuh. Klop sudah dengan ramuan Bleeding Steel dalam menyongsong sukses komersialnya.

Bleeding Steel bercerita tentang polisi bernama Lin Dong yang menghadapi dilema. Di satu sisi, ia harus bisa menyelamatkan Dr James, seorang ilmuwan pembuat jantung mekanis super.  Jantung mekanis menjadi incaran penjahat seperti Andrew. Ia juga telah menerima donor jantung mekanis namun tak berfungsi maksimal. Bahkan cenderung mengalami kegagalan dan secara genetis telah mengubah tubuhnya menjadi buruk.

Di sisi lain, putri Lin Dong, Xixi, tengah sekarat di rumah sakit karena menderita kanker darah. Mendampingi sang putri atau mengawal Dr James, menjadi pilihan tersulit bagi Lin Dong. Sang putri tak terselamatkan, Lin juga gagal menyelamatkan Dr James.

Kisah 13 tahun lalu tersebut menjadi kegagalan Lin sebelum ia memilih berpindah ke Australia. Lin menjadi pelayan apa saja, mulai dari kedai burger sampai tukang sapu di panti asuhan. Ternyata, di saat Xixi sekarat, Dr James menanamkan jantung mekanis buatannya di tubuh Xixi. Dan berhasil!

Jadilah Xixi yang diburu Andrew dan anak buahnya, para pembunuh dengan dandanan a la pasukan Darth Vader.  Pasukan pembunuh Andrew ini yang bikin kesal juga. Di awal aksi mereka, mampu menghancurkan sepasukan polisi dan tentara. Namun tak berdaya di akhir cerita digebugin Lin dan partnernya, opsir Xiao Su.

Ya sudahlah, yang penting penonton merasa terhibur dengan aksi Jacky Chan dan cerita fiksi ilmiah yang sesungguhnya nggak ilmiah-ilmiah banget. Tonton saja Bleeding Steel kalau cuma untuk membunuh waktu dua jam di bioskop!

(Sinemata/ *)

Sutradara: Leo Zhang

Pemain: Jacky Chan (Lin Dong), Show Lo (Li Sen), Ouyang Nana (Xixi), Tess Haubrich (kepala pasukan Andre), Callan Mulvey (Andrew), Erica Xia-hou (Xiao Su/ Susan), Damien Garvey (Rick Rogers)

TRIVIA

RATAPAN Anak Tiri (1973) diperani Faradilla Sandy menjadi film terlaris dengan  467.831 penonton (data Perfin). Awalnya dinilai sebagai film kacangan, selanjutnya menjadi tren cerita yang mengeksploitasi derita anak tiri dan kejamnya ibu tiri. Lahirlah Ratapan Anak Tiri 2 dan 3. Juga diproduksi cerita ‘ratapan’ lainnya, Ratapan dan Rintihan (1974), Apa Salahku (1976), Mana Yang Benar (1977). Kesemuanya menggunakan Faradilla Sandy sebagai bintangnya.