SINEREVIEW

Mar 19 2018 by arwuda

Love for Sale: Saat Jomblo Terganggu Masa Daluwarsa

LOVE for Sale mulai ditayangkan 15 Maret 2018. Film ini bercerita tentang Richard (Gading Marten) yang telanjur nyaman menjalani hidupnya yang datar tanpa tantangan. Usianya, menurut norma umum, sudah lewat waktu membangun rumah tangga. Ketika salah seorang teman akan menikah, mereka selalu bertaruh siapa perempuan pasangan yang akan menemani Richard.

Tidak nyaman menjadi gunjingan dan bahan ledekan, Richard mulailah mencari pasangan. Ia hubungi semua teman. Tidak satu pun yang berhasil. Ketika ia iseng menggunakan aplikasi Love Inc, Richard menemukan Arini (Della Dartyan). Pertemuannya dengan Arini mengguncang dunia Richard.

Adegan-adegan di dalamnya merepresentasikan kehidupan nyata, garuk-garuk punggung dan kaki. Bermalas-malasan di hari libur. Aspek keseharian yang diulang berkali-kali, menggambarkan pergantian waktu, sepertinya disengaja untuk memunculkan atmosfer kesendirian dalam kehidupan Richard, dan kontrasnya saat Arini telah masuk ke dalam hidup Richard.

Gading Marten berperan dengan baik dan mendalami atau bahkan menikmati kesendiriannya sebagai Richard. Interaksi dengan bawahannya di usaha percetakan menyuguhkan senyum-senyum simpul di muka penonton. Bersama Arini, Richard mentransformasi hidupnya. Obrolan malam hari, diskusi tentang hobi, pelukan-pelukan hangat, kecupan di kening, juga sarapan bersama di meja makan, mengubahnya lebih ‘hidup’.

Pesan-pesan agama, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan pernikahan, ditampilkan secara gamblang. Entah sebagai ironi atau memang bagian dari penyampaian pesan.

Tone warna film ini sangat menarik. Generasi milenial bilang, “Aesthetic.” Musik yang digunakan berulang-ulang dijamin terngiang-ngiang dalam benak setelah keluar dari bioskop.

Akhir film menggantung dan tidak jelas, membiarkan penonton menjawab teka-teki secara mandiri.

(Sinemata/ ANH)

Produser : Angga Dwimas Sasonggo, Chicco Jerikho

Sutradara : Andibachtiar Yusuf

Pemain : Gading Marten, Della Dartyan, Adriano Qalbi, Verdi Solaiman, Melissa Karim, Torro Margens, Annisa Pagih, Albert Hali

TRIVIA

JEPANG dikenal memiliki film dengan sekuel terpanjang atau episode-nya. Franchise flm Godzilla (1954-sekarang) dibuat hingga 32 judul. Zatoichi, kisah fiksi jagoan pedang buta dan seorang pemijat, dibuat 26 judul di rentang tahun 1962-1989). Tora-San (1959), film franchise ini diproduksi sebanyak 28 judul hingga tahun 2003. Bahkan disebutkan, franchise Tora-San dibuat sampai 47 judul.