SINEREVIEW

Apr 03 2018 by arwuda

Sekala Niskala: Surealisme dan Mitos Anak Kembar Buncing

SAUDARA kembar buncing (berkelamin laki dan perempuan), seperti unsur yin dan yang, menggambarkan keseimbangan. Apa yang terjadi jika keseimbangan itu terganggu? Pertanyaan ini menjadi tema dan latar cerita film Sekala Niskala garapan Kamila Andini.

Tantri (Thaly Kasih) menyadari ia memiliki sisa waktu untuk dihabiskan bersama saudara kembarnya, Tantra. Otak Tantra melemah dan ia mulai kehilangan inderanya satu per satu. Tantri bermain dengan Tantra hanya dalam imajinasinya. Mereka mengalami perjalanan magis setiap malam.

But well, it’s not everyone’s cup of tea. Penonton bisa sangat menyukainya, atau justru kebingungan. Sedikit dialog dengan plot yang juga minim dapat membuat orang tertidur di tengah pemutarannya. Atau justru terbius dengan surealitas yang ditampilkan dan sibuk memikirkan simbol yang bertebaran di sepanjang film.

Menonton Sekala Niskala seperti menonton pertunjukan seni. Penuh dengan koreografi mempesona. Tantri meliuk-liuk di tengah sawah, disinari bulan purnama, dengan anak-anak kecil sebagai penari latar, berputar, mendendangkan nada dari dunia lain. Di menit-menit tertentu, penonton akan kebingungan, apakah mereka menonton film horor. Sunyi, kemudian bebunyian mendebarkan meningkahi, sebagai pembangunan suasana dilakukan dengan sangat baik.

Rembulan juga menjadi penunjuk perubahan waktu sejak pertama Tantra dirawat di rumah sakit. Salah satu poin yang akan terlewat jika penonton tidak berkonsentrasi. Beberapa kali film ini mengingatkan pada Inception, kisah mimpi di dalam mimpi.

Sekala Niskala -- di festival-festival internasional diberi judul The Seen and Unseen --  berhasil meraih berbagai penghargaan, di antaranya The Grand Prix pada kategori Generation Kplus International Jury Festival Film Berlinale ke-68 di Berlin, Jerman.

Film yang digarap selama lima tahun ini mendapat dukungan beberapa organisasi dari berbagai negara, seperti Hubert Bals Fund, Asia Pacific Screen Awards Children's Film Fund, Cinefondation La Residence, dan Doha Film Institute.

(Sinemata/ANH)

Sutradara: Kamila Andini

Pemain: Ni Kadek Thaly Titi Kasih, Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, Happy Salma dan Gusti Ayu Raka. 

 

 

TRIVIA

"Lily van Java" merupakan Film tionghoa pertama yang dibuat di Indonesia, menceritakan kisah seorang gadis anak hartawan yang oleh ayahnya dipaksa menikah dengan seorang pemuda, sedangkan gadis itu telah punya hubungan asmara dengan pemuda lain. Merupakan proyek film bisu yang diambil alih oleh perusahaan Wong bersaudara (Halimoen Film).