The Perfect Husband: Tak Penting Esensi Cerita, Yang Penting Menghibur

The Perfect Husband: Tak Penting Esensi Cerita, Yang Penting Menghibur

TIDAK mudah memahami pilihan jodoh anak zaman now. Juga tidak mudah memahami keinginan memilih jodoh orangtua untuk anak-anak mereka The Perfect Husband mencoba menawarkan isu soal perjodohan ini. Klasik memang, seperti tema-tema film zaman old. Tapi di tangan sutradara Rudi Aryanto, The Perfect Husband cukup menghibur, meskipun tak cukup kuat dalam menyampaikan pesan film.

Kadang tak mudah memahami atas pilihan jodoh seorang anak, kerap orangtua salah menyikapi. Ini lebih karena merasa punya pengalaman masa lalu. Begitu juga sebaliknya, kekhawatiran orangtua atas pilihan jodoh anak, sering memusingkan mereka. Tak satu pun orangtua menginginkan kegagalan perkawinan anak-anak mereka. Tidak terkecuali urusan materi. Ini juga membingungkan anak-anak mereka dalam menentukan jodoh sempurna untuk mereka.

Berangkat dari ide sederhana ini The Perfect Husband diproduksi. Bukan ide baru, apalagi orisinal. Namun cukup menjanjikan apabila berbicara tentang bergesernya orientasi jodoh anak muda zaman now. Rata-rata pilihannya adalah simpel, cenderung pragmatis. Tidak ribet asal bisa hepi berdua sudah cukup. Soal materi, toh orangtua-orangtua masa kini kan begitu memberi kemanjaan dan kemewahan buat anak-anak mereka. Seperti cerita The Perfect Husband ini.

Dari sisi isu The Perfect Husband sebenarnya juga cukup seksi dan menjanjikan. Sayang Perfect lebih memilih mengejar sisi cerita populis dan problem permukaan saja. Padahal cerita tentang perjodohan tidaklah pernah usang, apalagi terjadi pergeseran yang sangat besar dari cara pandang generasi now dan orangtua mereka. Dan begitu lama film Indonesia yang berbicara soal isu perjodohan jadi film drama nan menarik. Perfect diyakini memunculkan banyak dilema saat diproduksi, antara pilihan cerita yang menarik dan pilihan populis berkaitan dengan popularitas dan fandom bintang-bintangnya. Bisa jadi penggemar Dimas Anggara, Amanda Rawles maupun Maxime Bouttiere adalah penikmat film ringan yang tak perlu menanti akhir cerita. Yang penting sudah bisa menyaksikan penampilan ketiganya di layar bioskop, sudah cukup. Tak penting esensi dan pesan film soal pilihan jodoh sang tokoh. Bebas!

The Perfect Husband bercerita tentang Ayla, gadis cantik kelas 3 SMA, yang tengah menikmati masa remajanya dan kisah cintanya dengan Ando, vokalis band rock. Tiba-tiba dikejutkan munculnya lelaki yang mengaku calon suami Ayla, namanya Ando, seorang pilot dengan penampilan yang lebih matang. Perjodohan mereka sudah dirancang dan direstui masing-masing orangtua.

Protes Ayla kepada Tio, sang bapak, tak mempan. Berbagai aksi untuk menggagalkan perjodohan juga tak berhasil. Tampilan Ando yang ganteng pun tak menggoyahkan Ayla. Pun usaha Ayla menyakiti Ando, malah berbalik menjadi masalah bagi dirinya.

Problem ini hadir sepanjang film The Perfect Husband. Akhir cerita sudah banyak penonton paham. Banyak penonton sudah membaca novel karya Indah Riyana ini, sebelum menyaksikan film. Sisi menarik The Perfect Husband di antaranya adalah akting Amanda Rawles sebagai sang pemberontak, lumayan menarik. Karakter Ayla begitu adorable. Kalau pun dianggap mis-match tentunya peran Tio (Slamet Rahardjo) yang terlalu tua sebagai bapak Ayla. Beruntung jam terbang akting Slamet Rahardjo menjadikan penonton tak protes. Setuju?

(Sinemata/*)

Sutradara: Rudi Aryanto

Pemain: Dimas Anggara, Amanda Rawles, Maxime Bouttiere, Slamet Rahardjo, Tanta Ginting, Maya Mulan, Dolly Martin, Bunga Zainal

Tags