SINEREVIEW

Jun 26 2018 by arwuda

Incredibles 2: Jangan Ada Peran Dominan dalam Keluarga

DALAM satu keluarga, tidak semua anggotanya bisa menjadi pengatur. Kalau Si Mom atau si Dad berebut mengatur, bisa-bisa malah berantakan hasilnya.  Film Incredible 2 memperlihatkan betapa saling menghargai dan memberi peran sangatlah penting, bila tidak ingin terjadi persaingan mengelola keluarga.

Incredible setidaknya menjadi pelajaran bahwa pengertian dan kerja sama dalam satu keluarga bisa memudahkan mengatasi permasalahan. Namun Incredible juga memperlihatkan bahwa peran domestik si Mom (Helen), tidak mudah diambil alih si Daddy (Bob). Begitu juga sebaliknya. Ada konsekuensi yang harus dibayar dan ditanggung saat masalah membesar.

Di opening film juga sudah diperlihatkan, bahwa bersaing mengambil peran, tanpa kerja sama dalam satu keluarga, problem yang harusnya mudah diselesaikan jadi persoalan besar buat keluarga ‘incredible’. Kerusakan yang mereka timbulkan berakibat pada menguatnya tuntutan untuk membubarkan peran super-hero. Cerita dan problem yang sama dihadapi super hero di X-Men universe.

Satu lagi yang coba ditawarkan film animasi Incredibles adalah bicara soal feminisme. Peran perempuan yang setara, bahkan di film digambarkan lebih dominan. Sebagian berhasil, tapi sebagian lagi diperlihatkan bahwa mendegradasi peran lelaki juga bisa berakibat buruk. Barangkali pesan ini hanya bisa dipahami emak-emak atau daddy-daddy yang nonton mendampingi anak-anak mereka. Sementara anak-anak sih sudah bisa diperkirakan, mereka lebih suka aksi Violete, Dash maupun bayi ajaib, Jack Jack.

Incredibles 2 sebenarnya menarik ceritanya, namun entah kenapa paruh-kedua Incredibles 2 tak istimewa. Padahal paruh-pertama film sempat menarik dengan isu di-grounded-nya para superhero karena kerap menimbulkan kerusakan lebih parah saat menghadapi penjahat. Belum lagi, mereka dianggap sebagai makhluk aneh yang harus menyembunyikan jati-diri saat beraksi dan perannya melebihi penegak hukum. Persis seperti isu perlawanan di film seperti X-Men maupun Justice League. Superhero dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum (ilegal).

Di saat superhero vakum, muncul kejahatan yang dikendalikan melalui kekuatan kaca mata virtual reality. Orang baik bisa berubah jahat saat menegankan kaca mata ini. Begitu juga apabila digunakan superhero, mereka juga bisa berubah jadi jahat. Di satu sisi, muncul Winston Deavor, kapitalis kaya raya dan menguasai teknologi ingin memperjuangkan keberadaan superhero. Tidak terkecuali saudara perempuannya, Evelyn.

Bagian ini memancing beragam kelucuan ketika Mr Incredible bertukarperan dengan sang istri, Elastigirl. Deavor dan Evelyn memilih Elastigirl sebagai hero mereka. Incredible Bob pun menjalankan peran domestiknya. Menjaga Dash dan kakaknya, juga mengasuh si bayi Jack Jack yang mulai berulah. Dan Bob juga tahu bahwa Jack Jack mampu memperlihatkan kekuatan superheronya.

Di paruh kedua film ini terasa kurang greget. Padahal, butuh klimaks untuk menuntaskan problem dan menangkap penjahat yang menguasai para jagoan lewat hipnotis kaca mata virtual reality. Jawabnya, tentu saja cerita klise dan mudah ditebak. Termasuk dugaan pelaku kejahatan yang memanfaatkan pada superhero. Petualangan keluarga Incredibles seperti anti-klimaks, tak menarik lagi. Begitu banyak aksi terjadi tapi tak menimbulkan decak kagum. Alhasil, Incredibles 2 ya tetap menarik, meskipun tak terlalu impresif.

(Sinemata/ *)

Sutradara: Brad Bird

Pengisi Suara:   Samuel L. Jackson (Frozone), Holly Hunter (Elastigirl), Craig T. Nelson (Mr. Incredible), Sarah Vowell (Violet Parr)

TRIVIA

Festival Film Indonesia (FFI) berlangsung sejak 1955. Tapi Piala Citra diberikan sejak tahun 1966. Lalu, siapa orang perfilman penerima Piala Citra terbanyak hingga saat ini. Tercatat nama Idris Sardi (10 Citra), Asrul Sani (8 Citra), Teguh Karya & Arifin C Noer (masing-masing 8 Citra).