SINEREVIEW

Sep 27 2018 by sinematapost

Searching : Mencari Putri yang Hilang Lewat Jejak Digital

searchingSEARCHING tidak istimewa sekali dalam mengumpulkan pendapatan. Dengan raihan mencapai 54 juta USD, cukuplah untuk mengembalikan film berbujet efisien ini. Tapi yang membuat istimewa Searching justru ide-ide penggunaan gawai, media sosial, mesin pencari, sampai kanal video posting sebagai bagian yang mendukung cerita film.

Searching juga menarik dari storytelling. Tanpa sadar penonton digiring mengikuti problem tokoh utama film. Bagi yang biasa eksis di media sosial pun akan melakukan hal yang sama dengan tokoh David Kim ketika menemukan masalah hilangnya sang anak. Penonton seakan diajak mengikuti kegelisahan, kegamangan, kecurigaan, kemarahan sampai rasa putus asa seperti David Kim. Media sosial menjadi bagian menaikkan tensi ketegangan film.

Kanal media sosial di film Searching juga menjadi bagian yang mengikat emosi penonton. Penggunaan kalimat juga efisien dan makin membuat penonton penasaran. Ia juga digunakan membangun mis-leading dari semua dugaan dan kecurigaan. Dialog-dialog melalui media sosial ini yang menjadikan banyak penonton salah terka pembunuhan. Foto dan percakapan di media sosial, tidak sulit masuk dalam ruang kecurigaan penonton ketika misteri dihadirkan atas hilangnya putri David Kim. Bagian ini persis seperti realita ruang-ruang percakapan media sosial. Begitu banyak dan pendapat yang kerap mengaburkan kebenaran.

Interaksi dan percakapan di media sosial, juga pencarian dan penelusuran di mesin-mesin pencari menjadi representasi kehidupan sosial manusia era now. Bahwa pada akhirnya media sosial dan mesin-mesin pencari itu membantu menemukan kebenaran, di kehidupan nyata pun juga terjadi. Searching seakan menjadi penegas bahwa ruang sosial dunia maya selain bisa membuat orang mis-leading dalam bertindak, tapi juga kerap membantu menemukan kebenaran.

Bila dipahami betul moral story film Searching, ia bisa menjadi representasi kehidupan sosial masyarakat kebanyakan. Kasus pembunuhan putri David Kim, dalam cerita film ini tidak terlalu penting betul, tapi bahwa logika dan nalar sehat akan ‘dimenangkan’ sewajarnya demikian.

Searching bercerita tentang kehidupan harmonis keluarga David Kim yang tiba-tiba goyah setelah ditinggal kematian sang istri. David membesarkan putrinya Margot Kim begitu obsesif. Margot harus pandai di sekolah, pintar biola dan jadi anak baik tentunya. Semua berjalan baik sampai David mengetahui putrinya tak pulang, meninggalkan laptopnya, tak membersihkan sampah rumah dan sempat tiga kali meneleponnya.

Semua relasi, kerabat hingga teman sekolah tak mengetahui keberadaan Margot, David lapor polisi. Detektif Rosemary Vicks akan memimpin penyidikan hilangnya Margot. Tak puas dengan hasil penyelidikan Rosemary, David membuka semua file, media sosial sampai rekaman-rekaman masa lalu. David percaya, jejak digital pun bisa ditelusuri. Persis seperti realitas sosial dunia maya, jejak digital tak ubahnya seperti catatan masa lalu yang bisa ditelusuri. Persis seperti upaya David Kim dalam menemukan putrinya. Ini sekaligus menjadi peringatan bagi pengguna media sosial, bahwa jejak digital memang kejam!

 

TRIVIA

RATAPAN Anak Tiri (1973) diperani Faradilla Sandy menjadi film terlaris dengan  467.831 penonton (data Perfin). Awalnya dinilai sebagai film kacangan, selanjutnya menjadi tren cerita yang mengeksploitasi derita anak tiri dan kejamnya ibu tiri. Lahirlah Ratapan Anak Tiri 2 dan 3. Juga diproduksi cerita ‘ratapan’ lainnya, Ratapan dan Rintihan (1974), Apa Salahku (1976), Mana Yang Benar (1977). Kesemuanya menggunakan Faradilla Sandy sebagai bintangnya.