SINEREVIEW

Oct 03 2018 by sinematapost

Something in Between : Cinta, Perpisahan dan Pertemuan Tidaklah Serba-kebetulan

TIDAK ada yang serba-kebetulan dalam hidup ini. Konon, ‘kebetulan’ itu terjadi karena persepsi manusia, bahasa manusia. Semesta sudah mengatur lewat satu kehendak. Begitu juga pertemuan dan perpisahan. Something in Between bercerita tentang rencana semesta ini. Tentunya, dalam bahasa drama romantis dan cerita cinta anak muda.

Screenplay dan Legacy Pictures merilis (lagi-lagi) kisah tentang romantisme anak muda putih abu-abu. Kali ini sedikit berbeda dibanding garapan sutradara Asep Kusdinar sebelumnya. Sebut saja seperti Magic Hour, London Love Story, Promise, One Fine Day, yang terbilang cheesy, ringan bahkan kadang berlebihan, untuk tak menyebut lebay.

Satu yang diyakini Screenplay, bahwa cerita romantisme anak muda, merupakan segmen yang sangat besar. Itu sebabnya, rumah produksi ini konsisten memproduksi drama cinta anak muda yang punya massa penonton setia. Perhatikan saja dari judul-judul yang diproduksi, kadang sampai dibuat sekuelnya. Selain itu tentu saja pertimbangannya tingkat kelarisan setiap judul film.

Sejauh ini hasilnya positif, film-film  Screenplay berhasil mencetak penjualan di atas sejuta penonton. Beberapa kali juga di bawah sejuta, namun selalu di atas 500 ribu penonton. Selain mampu memenuhi harapan penonton lewat drama cinta dan romantisme anak muda, pemain seperti Michelle Ziudith, Dhimas Anggara, Jefry Nichol, Amanda Rawles, Rizky Nazar, adalah bintang-bintang dengan fandom yang luar biasa besar. Rasanya mudah sekali mengumpulkan mereka. Dan film pun sukses mencetak box office!

Lalu bagaimana dengan Something in Between?  

Di minggu pertama meraih 100an ribu penonton merupakan hasil terburuk dari film-film produksi Screenplay. Sudah bisa dipastikan Something tak akan mampu melewati 300 ribu penonton sampai akhir peredarannya. Padahal, Screenplay (lagi-lagi) mempertemukan dua pemain idola penonton muda, Jefry Nichol dan Amanda Rawles.

Jefri dan Amanda beberapa kali sukses menghasilkan film box office, sebut saja Dear Nathan, Jailangkung 1 dan 2. Karakter yang mereka mainkan kerap bikin jatuh cinta penonton. Nyatanya memang demikian. Meskipun akting keduanya tak istimewa, setidaknya keduanya mampu memenuhi harapan dan hasrat penonton menyaksikan romantisme.

Dari sisi cerita Something in Between tidak terlalu buruk. Pada sepertiga bagian akhir, begitu banyak adegan sangat menyentuh. Kalaupun larut dalam cerita, minimal bikin mata sembab.  Cerita klise seperti janji setia, hanya maut yang memisahkan, kemudian diikuti adegan perpisahan dan kematian sudah menjadi formula umum. Namun Something tetap saja menyentuh.

Entah ada yang salah, atau terlalu sering cerita kegombalan cowok dalam menaklukkan cewek sudah sudah ada ukuran suksesnya. Kegombalan Dilan diyakini jadi standar lebay-nya cowok dalam menaklukkan cewek. Dan kalau tidak mampu memenuhi ekspektasi penonton, tentu saja jadi poin minus dari film-film drama romantis remaja. Ada yang salah dari Something ketika tak mampu benar-benar mengajak penonton yang notabene remaja tanggung, merasakan perasaan yang sama dengan tokoh Gema dan Maya. Jadinya, Something tak punya greget di awal cerita

Kegombalan Gema meruntuhkan hati Maya. Maya yang pintar dan anak tunggal menerima cinta Gema. Setiap upaya yang dilakukan Gema meskipun terbilang norak dan lebay-nya mampu membuat Maya tak berkutik. Singkat cerita keduanya jadian, singkat cerita pula mereka meninggal ketika rencana menikah keduanya ditolak orangtua Maya.

Dalam kehidupan lain, Abimanyu selalu dihantui pikiran hasil sketsa yang dibuatnya, termasuk wajah cewek yang tak terselaikan. Abimanyu harus merangkai puzzle dari mimpi dan sketsa yang dibuatnya. Ia manfaatkan liburan kuliahnya merangkai misteri hidupnya. Dan ternyata, Abimanyu membuktikan bahwa hidup bukanlah serba-kebetulan. Semesta bekerja tanpa pernah manusia bisa memahami.

Nah lho berasa berat nggak cerita Something in Between?

(Sinemata/*)

Sutradara: Asep Kusdinar

Pemain: Jefri Nichol (Geme dan Abimanyu), Amanda Rawles (Maya), Slamet Rahadjo, Surya Saputra, Rizky Hanggono, Yayu Unru, Amara

TRIVIA

WONG Fei Hung (1847-1924) menjadi tokoh legenda yang paling banyak difilmnya. Sejak era aktor Kwan Tak Hing (1949) memerankan guru Wong hingga Jet Li (Badge of Fury -2013) atau era Peng Yuyan (Rise of the Legend) tak kurang dari 120 judul film telah dibuat perfilman Mandarin maupun China daratan