SINEREVIEW

Oct 05 2018 by sinematapost

Aruna dan Lidahnya: Mencecap Rasa, Mengungkap Cinta

SETIDAKNYA dua cerita yang ingin dinarasikan pembuat Aruna dan Lidahnya. Pertama soal petualangan rasa menikmati kuliner. Berikutnya mengungkap cinta yang tak pernah terucap, melalui narasi relasi masa lalu. Dua cerita pararel bak rel kereta yang ujungnya  dipertemukan oleh isu wabah flu burung. Bukankah unik?

Unik memang. Cerita dua sahabat – Aruna dan Bono – yang ingin mengulang petualangan rasa menikmati kuliner di Surabaya dan Pontianak. Awalnya, perjalanan berlangsung karena Aruna mendapat tugas dari kantornya untuk meneliti terjadinya kasus flu burung di Surabaya (juga Madura) dan Pontianak. Dua daerah (random) yang diketahui ada pasien menderita demam tiba-tiba. Dan dicurigai sebagai awal penyebaran flu burung.

Penugasan ke Surabaya dan Pontianak juga menjadi perjalanan masa lalu yang kerap dilakukan dalam memperkaya rasa masakan Chef Bono. Sementara Aruna digambarkan sebagai pemilik lidah kelas wahid untuk urusan mencecap rasa makanan. Bahkan makanan pinggir jalan pun bisa memiliki sensasi yang luar biasa bila sudah mencapai lidah Aruna.

Petualangan mereka makin riuh setelah kehadiran Farrish dan Nad. Farrish dulu rekan kantor Aruna. Cinta tak pernah terucap, seringnya beda pendapat, termasuk pilihan rasa makanan, membuat Aruna dan Farrish tak pernah tersatukan.

Sampai bagian cerita ini, beberapa tanya bisa diungkap dari film produksi Palari Films yang disutradarai Edwin ini. Relasi cinta yang kandas sejak mula, kembali dibangun lewat narasi benci-cinta. Puncaknya tentu saja, segala perbedaan memisahkan mereka, tapi (lagi-lagi) menyisakan tanya untuk jawaban di akhir cerita. Berikutnya soal Bono yang diam-diam mencintai Nad, begitu pula sebaliknya, menjadi cerita yang dipahami sebagai pelengkap cerita cinta Aruna dan Farrish.

Setelah sepertiga film berjalan, sampai pada bagian petualangan rasa mereka dan penyelidikan munculnya dugaan penyebaran flu burung, bakal muncul duga menduga soal relasi cinta empat tokoh ini. Ternyata tidak. Pembuat Aruna memilih tarik-ulur cinta sebatas Aruna dan Farrish. Ada harapan yang masih ditunggu, adakah kemungkinan tarik-ulur cinta Aruna dan Farrish akan berubah. Bono menjadi kejutan pilihan Aruna pada akhirnya. Ternyata tidak!

Pembuat Aruna yakin, bahwa kelindan cinta Aruna dan Farrish punya daya jual. Dari sisi cerita tak masalah, tapi berharap Dian Sastrowadojo dan Oka Antara menemukan klik atau chemistry yang bikin penonton ikut larut rasanya tidak. Apalagi sampai emosional menyaksikan tarik-ulur relasi cinta. Tidak masalah dengan karakter Farrish yang kaku, suka sinis, cenderung egois, dan dengan baik dimainkan Oka Antara. Menanti adegan yang pas buat keduanya pun tak kunjung muncul.

Satu lagi yang membuat ragu film ini bakal laris adalah pemain Aruna sendiri. Setelah dibombardir dengan pemain-pemain remaja tanggung memainkan cerita cinta romantis. Dan sukses box office. Lantas menyaksikan Dian, Oka, Nicholas, dan Hannah Al-Rasyid bergenit-genit bermain dengan cerita cinta romantis a la remaja tanggung tadi. Alamak!

Sudah jadi risiko membuat cerita dengan isu pararel dalam rel cerita yang tak seimbang. Petualangan kuliner Aruna lumayan menggoda, begitu juga isu seksi tentang flu burung yang berujung korupsi. Namun kedodoran menawarkan cerita cinta romantis untuk pemain-pemain yang tak lagi muda. Gak bikin baper.

(Sinemata/ *)

Sutradara: Edwin

Pemain: Dian Sastrowadojo, Nicholas Saputra, Oka Antara, Hannah Al-Rashid, Desta Mahendra

TRIVIA

Festival Film Indonesia (FFI) 1986 mencatat sejarah kehebatan Teguh Karya saat menyutradarai film Ibunda. Film ini meraih 9 Piala Citra, penghargaan terbanyak yang pernah diraih film Indonesia