SINEREVIEW

Oct 19 2018 by sinematapost

AXL: Anjing Super yang Tak Super-super Amat

 

 

 

 

 

 

 

KETIKA penonton tak menemukan harapan pada sosok jagoan yang dinanti di film, selesai sudah sebenarnya film tersebut. Harapan menyaksikan anjing super yang dipesan pihak militer, ternyata tak lebih dari kaleng besi bermesin yang kelebihannya dilebih-lebihkan. Itulah AXL atau Attack, eXploration, Logistics.

Betapa menjelngkelkannya tak juga menemukan sisi paling menghibur dari film ini. Bahkan sampai film berakhir. Harapan menunggu anjing super yang digadang-gadang sebagai senjata pintar menggantikan manusia sebagai mesin perang, dapatnya hanya pepesan kosong. AXL masih bisa ditipu, AXL bahkan berkali-kali tak berdaya, menabrak kotak kayu sekali pun. Disemprot api juga ‘meleleh’. Dan duduk selama dua jam, tak sekali pun mendapati aksi keheroikan sang anjing.

Menyaksikan AXL sama juga melihat rangkaian cerita penuh kejengkelan. Belum lagi karakter-karakter yang sama sekali tak bikin simpati. Berharap pada karakter Sara Reyes yang didapuk sebagai gadis seksi, tak juga menemukan sisi Sara yang bikin empati. Sebagai gadis yang ibunya bekerja sebagai kepala rumah tangga keluarga kaya, tak jelas posisi Sara. Sebagai kekasih anak majikan ibunya, sebagai perempuan yang tertindas. Atau sebagai gadis yang cuma jadi pemanis dan menikmati hura-hura di rumah keluarga Fontaine?

Begitu juga karakter Miles Hill, pebalap motocross yang awalnya menggondol juara di kotanya, tapi tak terlihat lagi aksinya di atas motor trailnya. Lalu buat apa planting adegan dan kemenangan Miles di scene awal. Berharap keluguan Miles berubah menjadi jagoan malah memunculkan kejengkelan. Sungguh tak nyaman menyaksikan AXL yang di trailernya cukup menarik.

Entah apa perlunya juga menghadirkan anjing robot super sebagai senjata pengganti manusia. AXL digambarkan memiliki kecerdasan buatan, punya kemampuan berpikir, juga punya kekuatan bertempur, termasuk menghancurkan diri jika tertangkap. Coba, apa perlunya penonton disuguhi cerita kemampuan AXL menghancurkan diri dalam misi yang gagal?

Rasanya, tak masuk akal film produksi Hollywood sama sekali tak menarik memamerkan anjing jagoan. Bukankah blunder, penonton dijanjikan keseruan tontonan anjing super yang ternyata tak memiliki kemampuan super itu. Jadilah film berbiaya murah, konon hanya 10 juta USD, jeblok di pasar. AXL hanya menerima pemasukan sebesar 7 juta USD. Ah, sudah sepantasnya.

AXL bercerita tentang Miles Hill yang ingin menjadi crosser. Satu lomba ia menangkan dan ingin ke ajang yang lebih besar. Sayang usaha Miles dilecehkan Sam Fontaine, anak keluarga kaya. Sam bahkan menjebak dan mencelakakan Miles. Dalam kesulitannya, Miles bertemu AXL, robot pesanan militer yang melarikan diri dari pembuatnya.

Miles bersahabat dengan AXL, dan berpacaran Sara Reyes, cewek seksi yang ibunya bekerja sebagai pengurus rumah tangga keluarga Fontaine. Sampai di sini tak ada drama apapun yang ditawarkan film, kecuali AXL diburu perusahaan pembuatnya, juga diburu pihak militer. Selain itu, si anjing mengincar Sam karena pernah merusak tubuhnya dengan semprotan api.

Singkat cerita AXL diburu militer dan memilih menghancurkan diri demi menyelamatkan Miles.

Sampai di sini paham kan, kalau AXL tak memiliki nilai hiburan apapun. Kecuali sering-sering lihat bodong si seksi mungil Becky G.

Alamak!

(Sinemata/*)

Sutradara: Oliver Daly

Pemain: Alex Neustaedter (Miles Hill), Becky G (Sara Reyes), Alex MacNicoll (Sam Fontaine), Dominic Rains (Andric), Thomas Jane (Chuck Hill), Lou Taylor Pucci (Randall)

TRIVIA

Loetoeng Kasaroeng adalah film pertama yang diproduksi di Indonesia. Film bisu ini dirilis pada 1926 oleh NV Java Film Company. Disutradarai oleh G. Kruger dan L. Heuveldorp. Pemutaran perdananya di kota Bandung pada 31 Desember 1926 sampai 6 Januari 1927 di dua bioskop terkenal Bioskop Metropole dan Bioskop Majestic. Film Lutung Kasarung ini tercatat pernah diremake 2 kali yaitu tahun 1952 dan 1983.