SINEREVIEW

Jan 22 2019 by sinematapost

DreadOut Mestinya Bisa Lebih Mencekam, Tanpa Simplifikasi

dreadoutMENARIK, diangkat dari games sukses film Dread Out juga disambut penonton saat perilisannya. Tidak seantusias saat memainkan video game-nya. Dengan raihan penonton di minggu ketiga (18 hari) pemutarannya belum juga melewati sejuta penonton, sebenarnya performa film Dread Out mengecewakan.

Film DreadOut besutan Kimo Stamboel tidak maksimal dalam memanfaatkan cerita petualangan Linda di menghadapi penghuni dunia lain. Petualangan Linda menghadapi beragam memedi, jadi tak menarik ketika harus menghadapi hantu berkebaya, tanpa improvisasi estetis. Sementara pembuat film, punya keleluasaan dalam menginterprestasi cerita Linda menyelamatkan teman-temannya yang diculik di dunia lain.

DreadOut versi film pun tak memanfaatkan begitu banyak peluang menghasilkan ketegangan maksimal. Sebut saja ketika adegan petualangan Linda menyelamatkan teman-temannya di rumah ‘Jawa’, mestinya rumah (khas) Kudus. Ketegangan seharusnya bisa dihasilkan dari petualangan Linda ke dunia lain ini. Pembuat DreadOut sepertinya ingin menyederhanakan rasa takut penonton. Padahal begitu banyak penonton sudah imun menyaksikan film horor Indonesia.

Simplifikasi lainnya adalah petualangan Linda dan kawan kawan-kawan saat masuk lubang berpusar di apartemen. Mereka muncul di di kolam di dunia lain. Dan beberapa kali keenam remaja itu nyebur kolam. Menggelikan, menyaksikan mereka bertualang pulang-balik dari alam gaib. Penonton sempat nyeletuk, “Pergi ke alam gaib kok kayak naik angkot aja”.  

Di awal cerita DreadOut cukup menarik ketika beberapa orang melakukan ritual mencabut keris dari sosok mayat. Hanya yang diberkati dan bisa merapal mantra mampu mengeluarkan keris dalam tubuh sang mayat. Seorang anak perempuan menyaksikan peristiwa ritual yang akhirnya dihentikan oleh kehadiran sepasukan polisi.

Belasan tahun kemudian di gadis sudah dewasa, dialah Linda yang kini bekerja sebagai pelayan supermarket. Linda diminta Erik, Jessica, Alex, Dian dan Beni bertualang di apartemen kosong yang ditinggalkan penghuni. Di apastemen inilah Linda kembali mengingat peristiwa yang menimpa keluarganya. Linda pula yang akhirnya merapal mantra pembuka gerbang neraka.

Mulailah petualangan mereka ke dunia lain dan bertemu berbagai macam setan yang mengancam jiwa mereka. Linda diinginkan oleh sang penguasa dunia lain karena ia bisa membaca mantra untuk mengeluarkan keris milik sang penguasa dunia lain tersebut. Satu demi satu nyawa anak-anak muda ini terancam tidak bisa kembali kea lam nyata.

Nah, mulailah teriakan-teriakan dari anak muda yang sebentar-sebentar ketakutan. Mungkiin juga mereka (malah) menikmati rasa takut. Alih-alih menambah rasa mencekam, bikin adrenalin rush dan tercekat di kursi, yang terjadi berisik tak jelas.  

(Sinemata/ *)

Sutradara: Kimo Stamboel

Pemain: Caitlin Halderman (Linda), Jefri Nichol (Erik), Marsha Aruan (Jessica), Ciccio Manassero (Alex), Suzana Sameh (Dian), Muhammad Riza Irsyadillah (Beni)

TRIVIA

RATAPAN Anak Tiri (1973) diperani Faradilla Sandy menjadi film terlaris dengan  467.831 penonton (data Perfin). Awalnya dinilai sebagai film kacangan, selanjutnya menjadi tren cerita yang mengeksploitasi derita anak tiri dan kejamnya ibu tiri. Lahirlah Ratapan Anak Tiri 2 dan 3. Juga diproduksi cerita ‘ratapan’ lainnya, Ratapan dan Rintihan (1974), Apa Salahku (1976), Mana Yang Benar (1977). Kesemuanya menggunakan Faradilla Sandy sebagai bintangnya.