SINEREVIEW

Jan 29 2019 by sinematapost

Keluarga Cemara: Penuh Makna dan Mengingatkan Nilai-Nilai Keluarga Pada Generasi Milenial

 

Hingga hari Minggu 27 Januari 2019 lalu, jumlah penonton film drama keluarga Keluarga Cemara mencapai 1.611.797 orang. Film yang diadaptasi dari serial televisi tahun 1990an ini bisa dibilang film Indonesia pertama pada 2019 yang mencapai 1 juta penonton lebih. Rumah Produksi Visinema Pictures mengenalkan Keluarga Cemara kepada generasi milenial sekaligus menawarkan nostalgia kepada penggemar setianya.


Kisah “Keluarga Cemara” diangkat dari karya Arswendo Atmowiloto. Masih mengusung kisah mengenai keluarga berada dari kota besar yang harus pindah ke perkampungan. Di perkampungan inilah kehidupan keluarga mereka berubah drastis. Abah, diperankan Ringgo Agus Rahman mengalami masalah utang piutang. Perusahaannya harus gulung tikar. Bersama dengan Emak (Nirina Zubir), Euis (Zara JKT48) dan Ara (Widuri Puteri), keluarga ini berpindah ke perkampungan di pedalaman Bogor. Culture shock dirasakan Euis. Ia yang biasanya di sekolah elit dan bagus terpaksa pindah ke sekolah negeri yang kecil. Banyak konflik yang timbul di masa adaptasi dan penyesuaian diri mereka. Abah dan Emak bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keuangan, Euis merasa kehilangan teman-teman baiknya dan tidak betah untuk hidup di perkampungan. Lucunya, Ara lain dari yang lain. Ara masih ceria dan penuh senyum, justru Ara lebih menyukai tinggal di kampong karena menurut Ara udaranya lebih segar dan Abah juga lebih sering menghabiskan waktu di rumah.


Film ini bisa dibilang film keluarga yang luar biasa. Banyak sekali nilai-nilai moral, adegan-adegan penuh makna mengenai kehidupan di dalam keluarga. Nilai yang mulai banyak ditinggalkan keluarga-keluarga saat ini. Lagu pembuka yang legendaris “Harta yang paling berharga, adalah keluarga,” juga masih menjadi ikon di film Keluarga Cemara. Yandy Laurens mengemas Keluarga Cemara dengan sangat baik. Sutradara debutan ini berpengalaman membuat beberapa film pendek. Ia yang biasanya berkeliling festival film berhasil menunjukkan taringnya di film layar lebar pertamanya. Begitu presisi dan fokus mengangkat tema keluarga. Banyak adegan dramatik berkualitas yang sama sekali tidak cengeng. Namun mampu menyentuh dan menghangatkan hati penonton. Yandy juga bisa membuat para pemain berinteraksi secara natural, sehingga penonton bisa merasakan bahwa mereka benar-benar sebuah keluarga.


Namun kesuksesan film ini juga karena penampilan para pemainnya. Ringgo Agus Rahman yang biasanya berperan komedi dan karakter konyol sama sekali tidak tampak di film. Ringgo menjadi Abah, sosok ayah yang pekerja keras. Ringgo menepis segala keraguan banyak pihak saat pertama kali diumumkan sebagai pemeran Abah. Sementara Nirina Zubir yang biasanya menampilkan emosi netral mampu menjaga keseimbangan dan penengah di situasi-situasi konflik. Penampilan apik Nirina Zubir di film bisa dirasakan penonton di beberapa adegan yang mengharukan. Kedua pemeran anak Euis dan Ara juga tampil gemilang. Zara mampu melepas bayang-bayang nama JKT48 melalui akting sendu dan khas remaja perkotaan menjadi sedikit berbeda dari Euis di serial televisi dulu. Zara sukses menghasilkan chemistry yang hebat dengan karakter Abah. Terakhir, Widuri Puteri, putri Dwi Sasono, sebagai Ara yang ceria dan lugu juga menunjukkan talenta dan performa menawan untuk seorang anak berumur 8 tahun.
Singkat kata, Keluarga Cemara sangat bagus untuk ditonton bersama dengan keluarga. Nilai-nilai dan makna kehidupan berkeluarga yang mulai hilang dewasa ini mungkin bisa ‘terobati’ dengan film ini. Apakah kamu sudah menonton Keluarga Cemara?


( Sinemata / AAD )


Sutradara: Yandy Laurens
Pemain: Ringgo Agus Rahman (Abah), Nirina Zubir (Emak), Zara JKT48 (Euis), Widuri Puteri (Ara)

TRIVIA

FILM Pengantin Remaja (1971) mempertemukan Widyawati dan Sophan Sopiaan. Keduanya memerankan tokoh Romi dan Yuli. Di film itu pula keduanya saling jatuh hati dan menikah pada 9 Juli 1972.