SINEREVIEW

Feb 01 2019 by sinematapost

The Upside: Ketika Si Kaya dan Si Miskin Berbagi Kebaikan

upside

YANG satu punya sifat dan bawaan complicated. Masa lalunya kelam. Satu lagi, punya cacat kecelakaan tak kalah rumit. Dua sosok ini mewarnai cerita menawan drama komedi film The Upside. Lumayan sukses untuk film yang diangkat dari kisah nyata.

The Upside berkisah tentang sosok Phillip Lacasse, seorang milioner yang mengalami kelumpuhan seluruh tubuh. Hanya bagian leher dan kepala yang masih berfungsi. Phillip mengalami kecelakaan olahraga paragliding. Sudah diingatkan untuk tak terbang, namun demi menguji nyali dan melewati batas kemampuan, Phillip tetap melayang dan dihantam badai.

Namun keterpurukan Phillip sesungguhnya adalah kepergian Jenny, sang istri yang meninggal karena kanker.

Dell Scott narapidana yang akan bebas. Dia harus mendapatkan tiga tanda tangan agar bisa bebas murni. Satu tanda tangan dibutuhkan dari Phillip. Namun ketertarikan Phillip pada sosok Dell, menjadikan ia memilih mempekerjakan lelaki yang diusir istrinya dari apartemen bobrok. Di antara dua lelaki ini, ada Yvone yang mengurus bisnis Phillip dan mengatur kehidupan Phillip. Yvone pula yang menentukan juru masak, sampai pelatih fisik buat Phillip.

Chemistry tiga orang ini mewarnai film The Upside yang berdurasi dua jam lebih. Mulai dari pertikaian, perselisihan, hingga keterikatan di antara mereka, mewarnai drama kehidupan mereka. Misalnya saja, Dell tak hanya mengalami kesulitan menghadapi Phillip. Ia juga bermasalah dengan istri dan anak yang menolak kehadiran Dell dalam kehidupan mereka.

Phillip selain harus menekan egonya, ia tak bisa melupakan istrinya. Ia juga asosial. Sampai untuk memahami perempuan lain, Phillip memilih berhubungan lewat surat. Dan itu adalah kepuasaan yang tak tergantikan, dibanding harus bertelepon sang perempuan, atau malah bertemu muka.

Interaksi dengan dilatarbelakangi kebencian, kemarahan, egoisme, perlahan cair dan mengubah semuanya. Dell berubah, Phillip juga berubah. Konflik batin, perubahan sikap hingga tekanan psikologis menjadi alur cerita menarik The Upside. Lewat tokoh Phillip dan Dell pula, terangkai berbagai problem tokoh-tokoh lain. Relasi Dell dengan istri dan Anthony, anak semata wayang mereka. Relasi Phillip dan Yvone, dengan Maggie, maupun dengan tetangga lelaki usil, Carter Locke.

Dari sisi komedi, The Upside sangat segar. Termasuk bagaimana ketidaktahuan Dell yang kulit hitam dan memuja Aretha (Franklin), tidak pernah tahu bahwa sang queen of soul pernah nyanyi opera membawakan Nesum Dorma. Sementara Phillip adalah penggemar berat panggung opera dan lagu-lagu klasik.

Sesungguhnya, The Upside bisa jauh lebih bagus. Sayang beberapa eksekusi drama yang seharusnya menyentuh dan emosional, terasa tidak maksimal. Tapi satu yang sudah bisa ditebak adalah relasi Phillip dan Yvone. Sejak, surat-surat pujian cinta dari Lily dibacakan, sudah bisa ditebak, bahwa Yvone adalah pemuja sang bos. Perkawinan singkatnya, dipastikan karena keinginan merawat sang bos, juga bukan tanpa alasan. Tapi karena sang bos juga memikat hatinya, walaupun sang bos kecacatannya paripurna.

(Sinemata/ *)

Sutradara: Neil Burger

Pemain: Kevin Hart (Dell Scott), Bryan Cranston (Phillip Lacasse), Nicole Kidman (Yvonne Pendleton), Genevieve Angelson (Jenny), Aja Naomi King (Latrice), Julianna Margulies (Lily), Tate Donovan (Carter Locke), Golshifteh Farahani (Dr. Magana "Maggie" Gupta)

TRIVIA

Loetoeng Kasaroeng adalah film pertama yang diproduksi di Indonesia. Film bisu ini dirilis pada 1926 oleh NV Java Film Company. Disutradarai oleh G. Kruger dan L. Heuveldorp. Pemutaran perdananya di kota Bandung pada 31 Desember 1926 sampai 6 Januari 1927 di dua bioskop terkenal Bioskop Metropole dan Bioskop Majestic. Film Lutung Kasarung ini tercatat pernah diremake 2 kali yaitu tahun 1952 dan 1983.