Joker: Kegilaan Hanya Memenangkan Pertarungan di Saat Chaos

Joker: Kegilaan Hanya Memenangkan Pertarungan di Saat Chaos

JOKER menjadi kontroversi ketika kegilaan sang tokoh bisa jadi copycat, ditiru, diamplifikasi, dijadikan alat memenangkan pertarungan. Pada akhirnya penderita sakit jiwa bisa menjadi pahlawan bagi mereka yang memilih menghalalkan cara seperti Joker sang idola.

Kontroversi ini yang dianggap bsia membawa pengaruh buruk penonton Joker. Cerita kekejaman perang, adegan sadis, atau adegan kekerasan secara visual mungkin akan mempengaruhi pemahaman penontonnya. Tapi bila sisipan kekejaman hadir menjadi spirit sebuah film, ini yang dikhawatirkan menjadi tindakan permisif. Apalagi untuk Joker yang dikisahkan sakit jiwa, delusional dan selalu kalah dalam hidupnya. Cara termudah memenangkan hidup untuk mereka yang bermental joker, ya menghalalkan segala cara.

Ada alasan untuk khawatir mengenai spirit yang dibawa Joker kepada penontonnya. Kisah penderita sakit jiwa yang memenangkan pertempurannya juga dicemaskan menjadi role-model yang dianggap benar ketika melakukan kejahatan, membunuh dan pengrusakan. Ada alasan meminta penonton mewaspadai dampak buruk film Joker.

Berlebihankah? Ya ada sedikit unsur berlebihan. Belum ada yang tahu juga apakah teror kecemasan ini menjadi bagian dari marketing atau gimmick film? Ada benarnya juga, sebagai bahasa marketing dalam menjual film Joker. Tapi harus diakui, untuk khawatir  terhadap spirit yang dibawa film ini, seperti diungkap banyak pihak, juga layak dicermati. Bahwa pada akhirnya para reviewer juga overrated dalam menilai film, bisa jadi ini keberhasilan pemasaran film Joker. Bayangkan, ada tukang review yang memberi rating film Joker sampai ‘sembilan koma sekian’ untuk skala 10. Seluarbiasa itukah Joker?

Ada di bagian tertentu, ikut merasakan kepedihan yang dirasakan Arthur Flack – nama lengkap Joker – sebagai manusia ‘kalah’. Pekerjaannya hanya sebagai badut, itupun kerap dibully anak-anak. Bahkan Arthur harus kehilangan alat kerjanya karena dirusak anak-anak. Begitu juga urusan relasi dengan teman kerja, Arthur pun tak memiliki relasi personal, bahkan sering dicemoh sebagai badut gagal. 

Begitu juga cita-citanya sebagai komedian, tak pernah mendapat sambutan, bahkan gagal mengundang tawa. Arthur masih tinggal bersama sang ibu dan merawatnya. Ia meyakini cerita sang ibu, ada darah Thomas Wayne – bapaknya Batman – mengalir dalam dirinya. Ada paradoks dari sang ibu yang memanggil namanya ‘happy’, namun sepanjang usianya, Arthur tak pernah merasakan kebahagiaan. Termasuk, impiannya punya kekasih yang bisa diajak berbagi. Semua ilusi. Arthur Flack positif delusional, persis seperti sakit jiwa yang diderita sang ibu, Penny Flack. 

Rasa iba yang muncul, rasa kasihan dan merasa  senasib dengan Joker, sudah tentu menjadi keinginan pembuatan film meramu cerita Joker. Kejahatan Joker seakan dilematis, antara harus dibela atau memang selayaknya diganjar hukuman. Pembunuhan terhadap tiga pekerja eksekutif perusahaan Thomas Wayne di Wall Street, pun membuat bingung penonton, antara membela Joker atas nama membela diri dari perundungan tiga pekerja tersebut, atau tak seharusnya mendukung pembunuhan yang dilakukan Joker? Ini yang menjadi kekhawatiran ahli kejiwaan akan perilaku Joker yang diperlihatkan di layar lebar.

Bagaimana begitu mudah ia tarik pelatuk membunuh host acara televisi, Murray Franklin, membunuh penuh suka cita pendamping  kejiwaannya, merayakan chaos kota Gotham. Untuk pertama kali pula para badut penuh euforia  mengangkatnya sebagai pemimpin. 

Bravo kemenangan insanity atas chaos yang terjadi, Gotham yang lantak akan cukup lama menanti pahlawannya!

(Sinemata/ AMI)

Sutradara: Todd Phillips

Pemain: Joaquin Phoenix (Joker), Robert de Niro (Murray Franklin), Frances Conroy (Penny Flack), Brett Cullen (Thomas Wayne), Zazie Beets (Sophie Dumont)

Tags