SINEREVIEW

Apr 22 2016 by arwuda

Bunga Citra Lestari: Berdandan Gaya Anak Gaul Jakarta Tahun 1980-an

BUNGA Citra Lestari pemeran Nurfitriyana atau biasa dipanggil Yana, merasa tertantang bisa memerankan atlet panahan tahun 1980-an. “Saya belum lahir masa itu. Jadi benar-benar harus konsultasi sama Mbak Yana menyangkut atlet masa itu, dananan masa itu, juga kisah Mbak Yana zaman itu,” jelas Unge – panggilan BCL – di acara perilisan teaser poster dan trailer 3 Srikandi di bilangan Sudirman, Jakarta, Senin (18/4) lalu.

Film 3 Srikandi merupakan gambaran perjuangan tiga atlet panahan yang tengah mempersiapkan diri mengikuti Olimpiade Seoul 1988. Melalui latihan secara maraton yang keras dan disiplin, tiga orang atlet tersebut akhirnya mampu mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia di ajang olah raga dunia. Meskipun hanya medali perak yang diraih tiga pemanah, namun medali tersebut menjadi inspirasi bagi atlet-atlet yang berkompetisi di ajang Olimpiade di tahun-tahun berikutnya. Itu sebabnya, tak mudah memerankan sosok Nurfitriyana.

“Kalau dari sisi dandanan atau gaya hidup tidak terlalu sulit. Mengingat Mbak Yana asli anak Jakarta. Pada masanya, beliau juga jadi anak gaul. Jadi saya tidak menemukan kesulitan berperan sebagai Mbak Yana. Dan tampilan a la anak muda tahun 1980-an yang jadi referensi adalah film Catatan Si Boy. Yah seperti itulah tampilan Mbak Yana pada masanya,” jelas BCL.

Istri Ashraf Sinclair ini mengaku setelah menjalani syuting, ia mendapatkan banyak pelajaran. Dari latihan fisik, belajar memanah, belajar bagaimana bekerja sama dalam suatu tim. Ia juga merasakan susah dan beratnya menjadi atlet profesional.  “Kita benar-benar latihan panahan selama tiga bulan. Dan kadang tangan kita juga luka terkena tali busur.” ucap BCL.

Tentunya yang ditunggu penonton film Indonesia adalah lagu tema film 3 Srikandi. BCL akan menyanyikan lagu tersebut. Seperti film Habibie dan Ainun, BCL didapuk menyanyikan lagu tema. Film maupun lagu Original Sound Track film Habibie pun populer dan jadi film box office. Harapannya film 3 Srikandi pun sama,  bisa mengikuti keberhasilan film tersebut.

(Sinemata/DN)

TRIVIA

Darah dan Doa (The Long March [of Siliwangi] atau Blood and Prayer) adalah film Indonesia pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia sebagai sebuah negara (setelah berakhirnya Perang Kemerdekaan Indonesia). Merupakan produksi pertama dari Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), Film ini disutradarai oleh Usamr Ismail dan dibintangi oleh Faridah. Skenario ditulis oleh penyair Sitor Situmorang, yang menceritakan kisah cinta seorang pejuang dengan seorang Belanda yang menjadi tawanannya.