SINEREVIEW

Oct 04 2016 by arwuda

Iko Uwais: Headshot Tolak Ukur sebagai Penata Laga Internasional

IKO Uwais menceritakan kembali kegembiraannya ketika Headshot dipuji penonton saat pertunjukan perdana dunia (world premiere) di Toronto International Fim Festival (TIFF) 2016. Standing ovation dari 1300 penonton di Ryersorn Theater, 350 Victoria Street, Toronto, Kanada, merupakan bentuk apresiasi langsung setelah menyaksikan Headshot.

“Ada yang memuji, tentu juga ada yang mengkritisi Headshot setelah menyaksikan premiere,” ucapnya. The Playlist misalnya memuji, “Koreografi yang dikerjakan tim Iko Uwais sering bikin tahan nafas, minim editan dan skenarionya matang.”

Sementara Iko Uwais mengaku ia diberi waktu tiga minggu untuk mengerjakan koreografi laga film Headshot. Sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel pun memaksimalkan semua tawaran koreografi laga yang dibuat Iko bersama timnya. Kadang begitu banyaknya adegan laga yang harus ditampilkan beberapa kritikus, setelah menyaksikan di world premiere, menyebut Iko sebagai peremuk tulang atau bone crusher. Ini menjelaskan begitu banyak adegan laga yang dijalani Iko Uwais menghabisi lawan-lawannya.

Beda lagi pendapat blog Film Combat Syndicate yang menyebut minimnya bantuan peralatan saat adegan laga menjadikan adegan laga film Headshot brutal tapi manis. Padahal setiap laga, Iko membutuhkan banyak penyesuaian. “Ini mengingat beberapa pemain dan pemeran pengganti memiliki latar bela diri berbeda-beda. Saya juga harus menyesuaikan kebisaan mereka,” jelas suami Audy Item ini saat mengikuti acara Media Conference di gelaran Indonesia Comic Con (ICC) 2016, di Senayan , Minggu (2/10) lalu.

Bagusnya koreografi laga yang ditampilkan Iko dan tim serta pemain, juga dilontarkan The Hollywood News. “Paduan koreografi menawan, kamera yang dinamis dan editing yang manis, Tjahjanto dan Stamboel menghasilkan tempo adegan laga begitu enak dinikmati,” tulis The Hollywood News.

Iko Uwais berharap, ketika Headshot beredar di Indonesia di akhir tahun 2016 nanti, ada pujian maupun kritikan yang tulus. Mengingat ia butuh masukan dari setiap film yang dilakoni atau koreografi yang dibuatnya. Iko tak ingin pujian saja yang muncul dan itu bisa membuat kreatifitasnya mandeg. Headshot menjadi tolok ukur Iko Uwais sebagai pemain maupun penata laga film-film global. Termasuk penggarapan film terbarunya, The Night Comes Out.

(Sinemata/*)

TRIVIA

Festival Film Indonesia (FFI) berlangsung sejak 1955. Tapi Piala Citra diberikan sejak tahun 1966. Lalu, siapa orang perfilman penerima Piala Citra terbanyak hingga saat ini. Tercatat nama Idris Sardi (10 Citra), Asrul Sani (8 Citra), Teguh Karya & Arifin C Noer (masing-masing 8 Citra).