SINEREVIEW

Oct 23 2017 by arwuda

Stephen Chow: Bantah Produksi Sekuel Kung Fu Hustle (2)

 

WAJAR jika Stephen Chow dianggap sebagai pembuat film paling disegani. Tidak saja sebagai sutradara, sebagai produser pun ia sukses. Sebagai pemain film apalagi. Nyaris yang dihasilkan Chow adalah deretan film-film block buster.

Perhatikan data film berikut, Journey to the West (1) yang bisa menghasilkan pemasukan Rp 2,8 triliun, The Mermaid meraup tak kruang dari Rp 8 triliun. Yang mutakhir tentunya Journey to the West: The Demon Strikes Back yang menghasilkan Rp 3,35 triliun. Belakangan, memang film yang dihasilkan Stephen Chow angka-angkanya fantastis. Bisa dihitung dengan jari, film maker yang sanggup menghasilkan duit triliunan rupiah sebagai produser, bintang sekaligus sutradara film.

Ketika industri kreatif China booming, di antaranya perfilman, Stephen Chow dianggap yang paling mampu mengimbangi dominasi Hollywood. Bahkan melalui film-film suksesnya, begitu banyak produser Hollywood, juga film maker lain ngantri ingin kerja sama dengan Chow. Shaolin Soccer dan Kungfu Hustle dianggap sebagai referensi keandalan Chow menginternasional. Sampai sekarang Chow tidak juga melepas atas hak produksi Kungfu Hustle ke Hollywood.

Selain itu, Chow diuntungkan dengan kondisi perfilman China yang memberi kuota terbatas buat Hollywood untuk mengedarkan film-filmnya. Kuota film Hollywood di China tidak lebih dari 35 judul film. Selebihnya, mereka harus menggandeng distributor lokal sebagai partner kerja sama. Yang paling berkuasa di antaranya adalah China Film Group Corporation (CFGC). CFGC menguasai 33 persen distribusi film asing di China daratan yang memiliki 35 ribu layar bioskop.

Begitu juga urusan produksi bersama, Hollywood atau pembuat film di luar China, diwajibkan mengandeng perusahaan lokal. Stephen Chow menjadi pilihan utama sebagai representasi negeri China. Dan Chow membuktikan ia mampu menghasilkan film-film unik dengan tema-tema menarik dan menghibur. Kungfu Hustle salah satunya. CFGC pun ikut membiayai film ini.

Kungfu Hustle dianggap sebagai master piece Stephen Chow. Betapa tidak, saat dirilis Desember 2004 film ini meraup keuntungan sebesar Rp 230 miliar di Amerika Utara. Dan Rp 1,13 triliun di peredaran internasional. Kungfu Hustle menjadi film berbahasa China terlaris dalam sejarah perfilman China. Juga menjadikannya sebagai film berbahasa asing terlaris sepanjang masa di Amerika Serikat.

Pada 17 Oktober lalu sempat tersiar rencana produksi Kungfu Hustle 2. Stephen Chow Sing Chi akan tampil lagi sebagai Sing, penguasa kungfu telapak Budha. Penggemar Kungfu Hustle pun riuh di media sosial. Begitu hepi mereka mendengar berita kelanjutan Kungfu Hustle. Makin heboh ketika mereka mendapati poster awal Kungfu Hustle yang mencantumkan angka ‘2’ di poster tersebut.

Reporter Time Network pun langsung kasak-kusuk mencari informasi kebenaran berita. Mereka langsung konfirmasi ke orang-orang terdekat Stephen Chow. Namun mereka justru membantah berita rencana produksi sekuel Kungfu Hustle. Bahkan tidak pernah ada poster yang disebut sebagai informasi produksi film.

Melihat antusiasme juga pemujaan yang dilakukan penggemar, benar-benar menjadikan Stephen Chow sebagai film maker paling terpandang di China. Karyanya sebagai produser, pemain sampai sutradara pun dinanti jutaan penggemar. Dan bagi Hollywood, nama Stephen Chow sepertinya menjadi jaminan nilai jual film. Pantas, Stephen Chow dianggap sebagai yang ‘nomor satu’ dalam perfilman China. Semua orang ingin bekerja sama dengan aktor yang pundi-pundi kekayaan mencapai hampir Rp 1 triliun ini.

(Sinemata/ BLA)

 

*Dari berbagai sumber

 

 

Kepsyen foto: Kungfu Hustle, master piece karya Stephen Chow yang menjadikannya sebagai film maker paling disegani dan paling dinanti karyanya

TRIVIA

DI Thailand, sudah biasa sebelum dimulai pertunjukan konser, siaran radio dan televisi, juga film bioskop menyanyikan lagu kebangsaan Phleng Chat Thai. Hingga sekarang pun masih berlangsung. MVP Pictures mencoba melakukan ritual sama melalui Film Soekarno (2013). Sebelum film dimulai, tertulis teks yang meminta dengan hormat penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Banyak yang merespons positif, tapi tak sedikit yang menolak berdiri dan mau menyanyikan lagu kebangsaan.