Film-film Terburuk Peraih Razzie Awards Sepanjang Masa! (Part 1)

Tahukah kamu ada The Golden Raspberry Awards di dunia perfilman di Amerika Serikat? Berbeda dari penghargaan lainnya yang biasanya memberikan banyak apresiasi terhadap film-film bagus, The Golden Raspberry Awards hadir untuk “mengapresiasi” film-film terburuk disana. Lebih terkenal dengan nama Razzie Awards, adalah satu-satunya acara penghargaan kepada film-film yang dinilai sangat buruk produksinya. Acara ini biasanya diselenggarakan berdekatan dengan Academy Award.

Ide untuk memberikan penghargaan ini dicetuskan oleh John J.B. Wilson pada tahun 1981. John merupakan seorang publicist terkenal kala itu. Saat ia dan teman-temannya menonton siaran langsung Academy Award, ia berpikir bagaimana jika ada sebuah acara penghargaan untuk film-film terburuk, dengan maksud membuat para rumah produksi membuat film-filmnya dengan totalitas dan akhirnya tidak masuk ke dalam Razzie Awards.

Penghargaan-penghargaan yang diberikan juga dari berbagai kategori, loh cinegoers. Beberapa kategori yang paling populer dan banyak mengundang tawa adalah Worst Picture, Worst Actor, Worst Actress dan Worst Director.

Berikut Sinemata rangkum, film-film terburuk peraih Razzie Awards Sepanjang Masa:

  1. Inchon (1981)

Siapa yang bilang film dengan budget besar pasti bagus dan akan sukses di bioskop? Mungkin film ini bisa dibilang film terburuk dengan budget terbesar yang pernah diproduksi. Film ini didukung oleh insan-insan perfilman yang berkelas pada kala itu. Pengalaman menyutradarai 3 film James Bond tidak membuat Terence Young berhasil di film ini. Laurence Olivier, seorang aktor brilian yang sudah banyak mendapatkan berbagai penghargaan perfilman dunia juga tidak menjanjikan Inchon banyak ditonton. Film ini melakukan proses syuting di berbagai negara antara lain Amerika Serikat, Korea Selatan, Italia, Irlandia dan Jepang.

Kegagalan film ini sebenarnya sudah dirasakan oleh para kru, sejak masa produksi sudah ada banyak masalah yang terjadi. Lokasi syuting terkena badai topan dan mengakibatkan banyak personil film yang meninggal dunia. Masih memaksa untuk melakukan syuting “seadanya”, Inchon yang akhirnya dirilis pada tahun 1981 ini ditarik dari peredaran oleh MGM selaku distributor film karena dianggap gagal. Mungkin, jika tidak terjadi bencana saat proses syuting, film ini akan sukses di pasaran. Inchon bercerita mengenai pertempuran di Inchon pada saat Perang Korea. Wah,  apa Cinegoers jadi penasaran, film buruk dengan budget raksasa itu seperti apa?

 

  1. The Lonely Lady (1984)

Bagaimana jika novel kesukaanmu diangkat menjadi sebuah film? Pastinya kamu pasti akan nonton ‘kan Cinegoers! Tapi, tidak semua film layar lebar yang diadaptasi dari novel bisa memuaskan hasrat para pembaca setianya. Contohnya, ada film The Lonely Lady yang diadaptasi dari novel best seller yang dinilai sangat buruk, bahkan oleh sang penulisna Harold Robbins.

Harold Robbins merupakan seorang penulis novel terkenal di mana banyak novelnya diangkat menjadi film layar lebar dan sukses di pasaran. Tapi tidak di film The Lonely Lady yang dirilis pada tahun 1984. Robbins sendiri bahkan berkata jika film ini akan membuat rugi banyak. Ia meminta agar orang-orang tidak merogoh kocek mereka untuk menonton film tersebut. Film karya Peter Sasdy yang dibintangi juga oleh Pia Zadora ini hancur berantakan saat dirilis. Dihujat karena akting pemerannya yang tidak berkelas, biaya produksi film yang cukup besar dan tidak adanya pemahaman sang sutradara mengenai inti cerita dari novel membuat film ini menyabet penghargaan Film Terburuk tahun 1984. Hal ini juga yang menjadikan film ini masuk dalam sejarah sebagai film Universal Studios yang paling merugi sepanjang masa.

  1. Bolero (1984)

Film drama romantis sejak dulu memang terkesan begitu-begitu saja. Namun, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pasar untuk drama romantis masih banyak. Bolero yang dirilis pada tahun 1984 menyabet penghargaan film terburuk pada saat itu karena John Derek dinilai tidak bisa memberi pengarahan yang baik pada film itu. Drama romantis berbau “nepotisme” ini dibintangi oleh aktris cantik Bo Derek. Tapi kecantikan pemain ini tidak diimbangi dengan pengarahan John Derek, yang merupakan suami sang aktris. Berkisah mengenai petualangan seorang wanita untuk mencari sosok ideal yang akan menjadi cinta pertamanya, film ini tidak laris dipasaran karena banyak dikritik oleh kritikus dan juga orang-orang yang telah menonton film ini. Bolero dinilai kaku, tidak mempunyai sesuatu yang baru dan terlalu dramatis.

Rotten Tomatoes memberikan rating 0% untuk film ini meskipun pada kenyataannya film ini meraih sedikit keuntungan saat ditayangkan di bioskop-bioskop Amerika. MGM yang menjadi distributor film ini langsung memutuskan kontrak karena Frank Yablans (CEO MGM kala itu) sangat benci dengan film ini ketika pertama kali menyaksikan screening Bolero. Mungkin terkesan subjektif, tapi mungkin kamu ingin mencoba menontonnya Cinegoers?

 

(Sinemata / AAD)

Tags